Posts

Showing posts with the label Ranum

Ranum (Fragmen #4)

Ranum adalah perempuan yang sanggup menyihirmu dalam waktu sekejap. Dia memiliki pesona yang tak kunjung habis hingga mampu membuat matamu terpaku padanya sepanjang hari. Dia memiliki karisma sekuat magnet hingga tidak dapat bertemu dengannya barang sehari merupakan ide yang mampu menyiksamu sepanjang malam. Dia memiliki paras seelok imajinasimu tentang kecantikan, yang membuat decakanmu tak pernah berakhir, dan hasratmu kian terpelihara. Ranum adalah perempuan yang sanggup menghancurkan pertahanan dirimu sebagai seorang laki-laki. Matanya teduh, menghanyutkan, dan itu justru membuatmu gila karena tak mungkin menghindarinya saat sedang berbincang. Caranya bertutur sungguh teratur namun mengalir tanpa dibuat-buat, dan itu justru membuat lidahmu kelu saat harus menanggapinya. Ranum adalah perempuan yang sanggup membuat malam-malammu tak tenang. Kesan mengenainya bisa berdiam di benakmu sepanjang hari, setiap detik, di kala kau hendak tidur, di waktu pikiranmu tengah beralih dari...

Ranum (Fragmen #3)

Image
"Kerinduan yang lambat laun menggerogotiku sebagai perempuan sempurna." (Sumber: weheartit.com ) Ada banyak tantangan menjalani hidup sebagai perempuan. Baru kusadari kini, kedua orang tuaku mendidik anak-anak perempuannya berlandaskan kalimat itu sebagai skemanya. Bila ketiga anak gadisnya dewasa kelak, mereka harus sadar bahwa ada peran-peran yang harus dipenuhi dan agar kehidupannya sentosa, maka mereka harus mampu mengisi peran-peran tersebut. Mungkin begitu ayah dan ibuku memadukan visinya selama membesarkan kami—aku dan kedua adikku.

Selembar Surat

Aku tidak ingin bilang selamanya cinta. Cintaku hanyalah fragmen, yang tertanda oleh awal dan akhir, yang tak tahu akan berujung bagaimana, yang sarat energi tak pandang orde pun order, namun kutahu berbatas. Cintaku hanyalah sensasi yang tersurat oleh hasrat, redam dilekang ruang, dan tersapu oleh waktu. Akankah?  Entahlah. Yang aku tahu kini, waktuku bahkan belum tiba. Kalau aku bisa bilang ini cinta, maka jadilah ini cinta yang penuh oleh hasrat. Membabi buta tanpa aku tahu apakah ini layak dikuak. Seandainya kamu tahu bagaimana sesaknya dadaku akibat gairah yang terus bertambah untukmu. Seandainya kamu tahu bahwa setiap sosokmu nampak, aku hanya ingin kamu mengenaliku lalu berikan sesimpul senyum yang, rasanya, bakal cukup membuatku tenteram. Ah, tapi, itu bohong. Kalimatku di atas terasa begitu naif bila kubaca kembali. Aku tidak ingin mendapatkan sebatas senyum darimu. Aku ingin lebih dari itu! Kamu mau tahu apa? Baiklah. Namun pintaku, jangan kau kabu...

Ranum

Usianya memang tidak bisa dibilang belia lagi. Aku menggambarkannya dengan kata matang. Auranya juga bukan lagi ibarat bunga yang baru mekar merekah, melainkan bagai buah yang telah masak; aku seringkali membayangkan betapa nikmat bila bisa memetik lalu menyantap dagingnya yang ranum. Tanpa lelah, pikiran ini mulai mengusik diriku secara rutin. Ada berjuta alasan bagiku untuk tidak melupakan fantasi ini—malah justru memeliharanya. Pertama dan klise, aku tidak pernah menghendakinya untuk datang, semua terjadi tanpa aku sadari. Namun bila kuingat dengan cermat, inilah keajaibannya, bahwa ia tidak pernah mencoba mencuri perhatianku dengan sengaja. Setiap hari aku melihat rupanya dan tak jarang pula kami saling menyapa. Hanya sebatas itu. Hingga pada suatu siang aku begitu asyik melamun ke arah jendela yang luas demi menemukan inspirasi untuk materi pemasaran produk baru. Tiba-tiba pandanganku terhalang oleh satu sosok yang mendadak berdiri. Saat itu matahari tengah tinggi dan sinaran...