Posts

Showing posts with the label tuturhati

2017, Kelana Si Kontradiksi

Image
Sesuatu yang menarik perhatian, mencolok, atau memberikan kesan yang ekstrem rasanya patut—bahkan akan otomatis—diingat. Itulah mengapa saya putuskan 2017 mesti direkam dalam kata. Ini bukan tentang pencapaian titel, kesuksesan material, atau prestasi tertulis. Melainkan tentang satu kurun waktu yang mengukir sebuah tonggak dalam perjalanan kehidupan saya sebagai seseorang. Bentuknya tak konkret namun nyata terasa dalam semesta diri saya, yaitu berupa perasaan, pemikiran, dan pemaknaan tentang hidup. Di beberapa percakapan yang terjadi dengan rekan kerja, keluarga, dan beberapa sahabat, saya mengulas 2017 sebagai 'tahun yang ekstrem'. Penandanya jelas: sejumlah peristiwa yang terjadi setahun belakangan beserta segala rasa yang terlibat di tiap peristiwa tersebut. Pelik. Tahun ini terasa luar biasa pelik. Pernah tidak kamu mengalami kesulitan untuk menceritakan sesuatu, entah perasaan, kronologis, atau gambaran akan sebuah peristiwa saking rumitnya hal tersebut? Nah, d...

Koneksi

Mereka bilang koneksi itu adalah sebuah mitos. Katanya, ada hal-hal lain yang lebih penting ketimbang koneksi jiwa saat kau memilih seseorang. Pernah kudengar pula kalau koneksi adalah sesuatu yang bisa kau pupuk hingga berkembang, mengakar, dan menjadi sesuatu yang mendasari. Konon pula, koneksi itu delusi yang hanya nyata dalam imajinasi. Apakah benar tidak ada namanya pertemuan dua jiwa yang—hanya melalui tatap—terasa begitu mantap; bahkan tanpa kata ataupun penjajakan? Benarkah hal ini mustahil? Apakah ini berarti segala sesuatu yang terjadi dalam sanubari manusia hanya patut dianggap masuk akal bila dapat dirasionalkan? Bahwa koneksi itu ada karena A, B, C, hingga Z. Sesederhana itukah alam pikiran kita? Segamblang itukah segala sesuatu yang terjadi dalam diri manusia—yang justru seringkali membuat kita kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya? Jakarta, 29 Mei 2017

Setidaknya, Kini Saya Paham

Image
Sumber: Power of Positivity Sering kali manusia berpikir bahwa jawaban adalah sesuatu yang harus didapatkan sesegera mungkin. Otak kita sudah punya aturan instingtif bahwa pertanyaan haruslah melahirkan reaksi pada saat itu juga. Maka manusiawi rasanya bila kita frustasi ketika dihadapkan pada sebuah ketidaktahuan . Padahal, Sayang, hidup tidaklah sesederhana itu, alam pikiran manusia tidaklah selugas itu, dan jiwa manusia bukanlah sesuatu yang kentara wujudnya. Jadi tak salah pula kalau saya bilang “menjadi tidak tahu” juga merupakan suatu keadaan yang terbilang manusiawi. Tentunya bukan berarti saya pasrah mentah-mentah dengan fase “menjadi tidak tahu”. Pada akhirnya saya sadar kalau ada tiga hal yang telah membantu saya menghadapinya: rela meluangkan energi untuk berpikir lebih dalam , rela berpikir  secara perlahan , dan rela untuk tidak menyangkal apa pun yang hati ungkapkan. Saya percaya kalau—dalam hidup yang tak sesimpel hitam putih ini—ada masa...

Catatan #1

Karena setiap detik yang saya habiskan untuk memaklumi kondisi 'sedang tidak bisa menuangkan apa pun ke dalam tulisan' adalah penyebab utama menumpulnya kemampuan saya dalam menulis.

Avowal

I resign from the altered world here; pull myself back onto the ground where I can stand. Through the eyes I witness what lies before us. All.  I stop to wander among the mannered; drown myself apart from the clown. Inside my mind I find a peace, acknowledge that somewhere deep down, there is a crave to showcase ego. The ego that is of no use. I divert to reality; I convert the crave; I revert to the worth. That is world. *we can not simplify the universe into some codes*  [Makassar, 12 & 17 Sept 2014]

Selamat Istirahat, Tana

Image
"Kasihan, dia sudah tidak bisa melompat ke atas kursi itu lagi," kisah Mama, tahun lalu. Waktu itu saya sedang pulang ke rumah di Balikpapan, yang juga telah menjadi rumah Tana, anjing piaraan kami, selama sekitar 13 tahun. Mendengar ujaran Mama, saat itu saya baru sadar bahwa anjing ini sudah lanjut usia. Ia telah menghuni rumah kami semenjak saya masih kelas 1 SMP, hingga saya lulus sekolah, pergi melanjutkan kuliah ke Bandung, lulus kuliah, bekerja, dan menikah. Ia juga telah mengalami berbagai fase yang terjadi di rumah itu. Mulai dari saat empat tuannya masih tinggal bersama di sana (kakak perempuan saya sudah merantau ke Bandung saat itu), lalu satu per satu dari kami meninggalkan rumah itu; kakak laki-laki saya kuliah ke Jogja, saya ke Bandung, ayah pindah ke Jogja setelah pensiun, mama menyusul ayah ke Jogja setelah pensiun lima tahun setelahnya, hingga sampai kakak laki-laki saya kembali bekerja di Balikpapan dan menjadi majikan satu-satunya bagi Tana. Bal...

Mencatat

Ada yang pernah bilang (kurang lebih) seperti ini, “Ide itu bagaikan sayap. Jadi harus segera ditangkap ketika menghampirimu.” Saya lupa di mana dan kapan saya membaca kalimat tersebut, serta siapa pencetusnya (kalau ada yang tahu, mungkin boleh langsung memberitahu saya). Yang jelas, saya merasa kalimat ini sangat sesuai dengan kondisi yang belakangan ini terjadi. Ide tidak pernah bisa ditebak atau dipancing kemunculannya, malah terlalu sering lepas dari ingatan. Saya ingat beberapa kali saat hendak tidur, kepala ini dipenuhi oleh ide-ide soal karakter, alur, konflik, hingga akhir sebuah cerita. Sayangnya, saya terlalu menyombongkan diri dengan berpikir, “Ah, besok pasti ingat. Langsung tulis saja,” begitu. Nyatanya? Keesokan harinya, hanya beberapa potongan dari keseluruhan ide sebelumnya yang masih tinggal dalam pikiran saya. Kejadian di atas yang berulang-ulang saya alami bikin otak ini tidak tenang. Ketika saya berkutat di depan laptop untuk mencoba menuangkan ide ke dal...

Cobaan

Tiba-tiba terlintas gagasan asmun ("asal muncul", temennya "asbun-asal bunyi") dalam benak saya, yaitu: mungkin saya harus kembali menggunakan mesin tik. Di bayangan saya, mengerjakan komposisi tulisan dengan perangkat kuno tersebut pastilah bebas gangguan. Mesin tik cuma tentang si pengetik dan kertas. Tidak ada tampilan layar lain selain kertas yang bakal diisi dengan jalinan kata, buah pemikiran dan imajinasi si pengetik. Tidak ada jaringan internet, maka otomatis laman situs juga nihil. Bagi saya, ini artinya: tidak ada pengalih perhatian  -selain tidur, makan, mandi, ke kamar mandi- yang bisa membuyarkan konsentrasi dan menggoyahkan "iman" tiap detik, saat pikiran harusnya sedang berkonsentrasi penuh untuk bertutur.  Tapi, setelah dipikir-pikir, jalan pikiran saya yang terbalik. Simpelnya sih , jangan mau digoda oleh jaringan internet, karena yang mengaktifkan segala laman situs itu, kan, jari-jari saya sendiri! Ya ampun, lemah. Pfftt.

Birthday

Image
What could possibly be the most precious thing that God offers to human? Watching and hearing some news about the births and the deaths lately have brought me to a conclusion: that it is a life. And revised, it is not an offer, but a gift. God doesn’t negotiate, He decides whether a soul lives or dies. He gives a life and at once, He also takes a life. Yin and Yang. A balance that only by Him can be done. Once in a year, we commemorate the day when God brought us to this world, we celebrate our birthdays. Cultures have created all those symbols and rituals linked to a celebration of everyone’s birthday through greetings, parties, wishes, presents, etc. I humbly believe that it is all to express how blissful we are to be allowed to have and given a life—manifested through the ages—until the present. But, is this what we really feel about those festivities? Do we really think about the greater gift above the party, the sincere and lovely greetings, the presents, the gifts, the surpris...

Teruntuk Pria 4 Desember

Image
Tiga tahun terakhir, menjelang tanggal ini biasanya aku selalu dipenuhi dengan rencana. Isi rencana itu sebenarnya mempunyai motif yang solutif; bagaimana caranya supaya aku bisa menghabiskan tanggal ini di sebelah kamu? Untungnya, semenjak 2010 hingga 2012, kondisi selalu berpihak kepada kita yang waktu itu sedang menjalani hubungan jarak jauh. Ada saja kesempatan yang membuat kita bisa menghabiskan tanggal 4 Desember bersama-sama. Lalu, beberapa hari menjelang 4 Desember di tahun ini, tiba-tiba aku teringat peristiwa yang terjadi tepat satu dekade lalu. Sebenarnya, kamu yang menceritakan ulang tentang hari itu, karena jujur saja, aku sepenuhnya lupa. Sepuluh tahun yang lalu, kamu merayakan hari jadi ke-17. Hari jadi yang penting bagi kebanyakan remaja, karena di usia ini, katanya kita sudah dianggap dewasa; sudah punya KTP, sudah punya SIM dan otomatis boleh mengendarai kendaraan sendiri, dan hak-hak istimewa khas orang "yang sudah besar" lainnya. Waktu itu, kamu mengun...

Kemelut Keraton

Prihatin. Kata ini sungguh tepat untuk menggambarkan pandangan saya terhadap apa yang terjadi di tubuh Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Konflik internal keraton sudah menjadi konsumsi publik dalam hitungan tahun, dan malah makin runcing belakangan ini. Saya pikir rekonsiliasi yang sudah terjadi antara "raja kembar" beberapa waktu silam merupakan penyelesaian dari pertarungan kuasa di dalamnya. Tapi nyatanya tidak. Runyam.  Tidak bisa dipungkiri kalau eksistensi Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak bisa disejajarkan dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang masih berlaku sebagai pemerintah DIY. Namun, satu hal yang tidak bisa dihindari oleh keraton pewaris takhta Mataram ini adalah: perannya sebagai pusat pengetahuan dan keberlangsungan budaya Jawa. Sebagai cagar budaya, warisan kebudayaan, dan satu wujud pengetahuan yang harus dilestarikan. Ini yang menjadi keprihatinan nomor satu saya. Lupakan peran politik keraton yang sudah lama tidak berlaku ...

Generasi Transisi

Kemarin, saya pergi ke Solo bersama kedua orang tua saya. Kami berangkat dari Yogya sekitar pukul 11.00 dan saya, seperti biasa, berlaku sebagai sopir. Ketika sudah memasuki Kabupaten Boyolali, saya melihat satu rumah warga yang berdiri di pinggir jalan dan terapit sawah di sekelilingnya, tidak ada rumah lain. Ayah lalu berkomentar soal alasan rumah-rumah di pinggir jalan itu miring, alias tidak menyiku 90 derajat dari jalanan (wajarnya, wajah rumah tampak rata jika kita lihat dari depan jalan), hingga ayah bernostalgia soal lahan sawah yang makin terkikis. "Bayangin, suatu hari nanti sawah-sawah di sini akan lenyap oleh bangunan," katanya. "Ayah dulu masih merasakan kehidupan desa, tanpa listrik. Masih ingat betul bagaimana alam itu (dalam benak ayah)," katanya lagi. "Kasihan, ya, generasi kamu tidak mengenal alam," ujar ayah yang langsung saya potong, "Aku masih, dong, Yah. Generasi setelah aku baru bisa jadi tidak mengenal alam lagi," korek...

Ganti Nama

Tumben, hari ini saya merasa ada yang "ribet" dari blog ini. Ternyata hanya persoalan nama atau judul blog. Dari awal membuat blog di Wordpress hingga hijrah ke Blogger, saya memutuskan "Universe of 42" sebagai judul blog. Alasannya memang agak romantis: angka 42 kerap menyertai dan menghantui kehidupan saya. Jika ditanya contohnya apa saja, sudah terlalu banyak dan dulu pernah saya bahas di blog Multiply. Intinya adalah angka 42 pernah begitu sering mampir dalam kejadian-kejadian sepele sepanjang hidup saya dan cenderung menunjukkan pertanda yang membuat saya menelaah maknanya. Akhirnya saya putuskan menggunakan "Universe of 42" sebagai cerminan salah satu makna angka ini (dari sebuah sumber): antara Tuhan yang muncul lewat simbol 777 dan iblis 666 (42 adalah hasil perkalian 6 & 7, ceunah ). Lalu, saya percaya bahwa segala yang tertuang di blog pribadi saya merupakan wujud ide, imajinasi, pengalaman, serta harapan yang serba kontradiktif. Ada nilai k...

Perlahan

Image
"All we need is just a little patience" -Guns N' Roses Perlahan-lahan, saya rasa begitulah segala sesuatu harus dimulai. Seperti anak kecil yang baru lahir, ia butuh waktu untuk mampu duduk, tengkurap, merayap, merangkak, hingga tertatih-tatih melangkah. Lalu saya muncul dengan bantahan, "Itu, kan, anak kecil yang memang belum tahu apa-apa di dunia ini! Beda dengan saya!" kira-kira begitu. Tapi ternyata, ada yang harus saya tiru dari proses belajar si makhluk mungil ini. Adalah kesabaran dan kepasrahan seorang bayi yang baru lahir dengan segala keterbatasannya untuk menyambut level baru sebagai manusia; manusia utuh yang mampu menggunakan seluruh organnya untuk bergerak dan berpikir. Di usia saya yang sudah genap seperempat abad ini, ada satu hal yang saya sadari telah terkikis: kemampuan untuk bersabar. Jika ditelaah dengan mendalam, penyebab dari gejala ini tidak bisa ditarik secara mutlak ke dalam satu simpulan sebab. Saya bisa bilang kemajuan teknol...