Posts

Showing posts with the label Prosa

Fana

Image
Foto oleh  Natalie Collins  /  Unsplash Aku sering bertanya-tanya, Apakah yang nyata pasti selalu berwujud? Jika ya, bagaimana dengan yang tak terungkap? Bagaimana dengan yang tak terlihat? Bagaimana dengan yang tak diujar? Kita sering bermain sendiri, dalam sanubari atau imajinasi pribadi. Toh, banyak yang berdiam di sana tanpa ada yang diberi tahu. Lantas, apakah itu tak nyata? Tapi kita tahu wujudnya dalam hati. Ruang-ruang rahasia kian rapat oleh yang tak kasat mata. Ruang-ruang misteri makin terisi oleh yang tak terperi. Mana yang nyata, hanya sebatas duga. Bintaro, 9 Desember 2017

Nestapa

Image
Foto oleh  Felipe P. Lima Rizo  /  Unsplash Detik-detik itu datang begitu saja. Benakmu terkejut, ingatan kembali terajut. Satu per satu momen tergambar nyata, satu per satu rasa menjalar, dan lapis per lapis rindu menumpuk. Sebelum kamu sadari, jiwamu menyalak susah payah, tersengal memanggil yang tak tampak. Sebelum kamu paham harus apa, rasamu sudah lebih dulu berkata. Kamu tak tahu bagaimana menggambarkannya. Hanya ini potongan-potongannya:           dadamu sesak. kerongkonganmu tercekat. perutmu bagai tersedot ke dalam.       tubuhmu serasa menyusut. mengisut. tak berdaya. tak berkuasa. Bintaro, 6 Desember 2017

Sadar Tidak

Sadar tidak, kalau kamu sedang menari di tengah kubangan? Sadar tidak, kalau kamu bersenandung di tangga nada yang buntung? Sadar tidak, kalau kamu tengah tertawa di ruang hampa? Sadar tidak, kalau sewaktu-waktu, kamu akan kembali termenung oleh pertanyaan: mana bahagia? Jakarta, 30 September 2017

Jiwa

Hanya dalam tiga detik, sepotong jiwa menyeruak keluar menerobos lorong gelap yang tak kenal dusta; mata. Hanya butuh tiga detik untuk membebaskan jiwa itu, menjelajahi pelosok-pelosok yang belum pernah ia temui dan sungguh haus untuk ia telusuri di ribuan detik setelahnya. Jiwa menghinggapi pagi, siang, dan malam sekenanya. Ia tak berencana, ia hanya berkelana. Ia tak banyak menimbang, ia hanya bertualang. Jiwa tak sadar, bahwa ia sedang menjelanak ke sepotong jiwa lainnya dan tanpa ia tahu, perlahan ia rasuki bulat-bulat. *menjelanak: menyelinap, menyusup Argo Parahyangan malam, menuju Jakarta, 27 Maret 2017

Kasmaran

Tatapan pria, saat ia tengah jatuh cinta, adalah tatapan paling magnetis yang pernah kuselami. Wajah pria, saat ia tengah tengah jatuh cinta, adalah wajah tertampan yang pernah kulihat. Seorang pria, saat ia tengah jatuh cinta, adalah seseorang paling menggairahkan yang pernah kutemui. Itulah mengapa seorang pria, saat ia tengah kasmaran padaku, adalah sosok yang selalu kurindukan dan kuelukan. Aku ingin menikmati tiap detik saat hasrat, energi, dan keelokannya memuncak—terpusat untukku, berpusar di aku.  Bagiku, tidak ada momen lain yang bisa mengalahkan indahnya perasaan dipuja seorang pria. Walau ini memang hanya sementara.  Geloranya akan redam, gemuruhnya akan reda, pun mabuknya akan padam begitu ia rampung menjalin potongan-potongan  puzzle tentangku, juga begitu terkuak bahwa cintanya berbalas. Perlahan, semua beralih tenang serta pasti. Jangkar telah mengakar dan ombak berganti riak. Maka aku akan lekas pergi, kembali mencari masa yang hilang—m...

Touched by an Angel

Monica witnessed a bombing that exploded an office building across the street, while she was having a conversation with her two angel friends. In that very shocking moment, she—along with the other two angels of God—abruptly run toward the building and hysterically cried for what they had just seen. It turned out that the horrible scene she saw had frustrated her and, at the same time, shaken her faith to God. She thought that learning to use heart to feel was no use for angels, since it was only made to be broken; a very human thing. Later, Monica wandered alone and unexpectedly, questioned about God’s will, her faith and principle as an angel. Then there she was visited by a man—that later she recognized as no ordinary mortal, but satan—who offered her another choice of living by becoming a human. At the beginning of their conversation, she explained her reason of frustration and why the bombing had brought her such a misery to the human form of the satan, ...

Detik Leluasa

Image
Sesungguhnya, pemandangan ini membuatku iri setengah mati pada si meja dan kursi di hadapanku kini. Bagaimana tidak? Dua benda mati ini selalu dinaungi oleh teduhnya pepohonan yang hijau, selalu disinari cahaya terkuasa tiap pagi, siang, dan sore. Belum lagi udara bebas yang selalu menyelinap dengan lembut di tiap pori-pori kayunya. Semua begitu...bebas dan sehat. Namun, aku harus akui bahwa berkat si meja, kursi, dan segala suguhan alami yang dipunyainya, maka aku bisa mencicipi secuil kebebasan yang tiap detik tersaji di sini. Aku merasa bebas... Tidak ada sekat yang harus mengurungku tiap hari di jam yang sama, tidak ada bantuan teknologi agar aku bisa merasa sejuk, dan tidak ada pertarungan gahar di jalan raya. Sungguh sederhana, karena yang aku butuh cuma si meja, kursi, dan semua yang mengitarinya kini. Semudah itu kebebasan bisa terkecap dengan sempurna. Tapi memang berbelit untuk bisa mendapatkan kebebasan semurah ini. Ada harga-harga yang harus dibayar demi mampu melepaska...

Kiamat

Perjalanan ini ternyata luar biasa sulit. Belum pernah aku alami sebuah tanjakan terjal sekaligus jurang curam secara bersamaan dalam satu detik. Semua batas antara waras dan sinting teraduk jadi satu dalam pusara yang semakin keras berputar dan memusat, semena-mena menebang segala rasio dan perasaan yang semestinya bisa dikontrol oleh batas kemampuan manusia. Tiap janji mungkin dan tak mungkin sudah menemui ajalnya dan bocor merembesi tiap permukaan, lalu menjadikan seluruh tubuhnya berlumut, mengerak, lalu lapuk. Sumpah serapas atas permukaan berbatu ini sudah tidak terasa lagi, malah membuat jarum-jarum tertajam di muka bumi ini bertumbuhan di sana sini. Sejauh pupilku memicing, aku tidak mendapati satu milimeter pun permukaan yang halus untuk dipijak. Telapak kakiku bahkan sudah tak terkejut lagi oleh kejam terik matahari yang termanifestasi di tiap butir pasir. Kasar, panas, menggores, menyayat, seluruh kulitku sudah kebal. Ada saat-saat tertentu aku menoleh ke belakang, hori...

Botol Waktu

Satu botol bir adalah penghiburmu. Setelah kuingat-ingat dengan saksama, kamu terbiasa untuk menggenggamnya di malam-malam kita bersama. Satu, dua, tiga sepertinya kurang untukmu, dan aku hanya akan duduk mengamati gerak-gerik kamu yang berpindah dari meja bundar kita, menuju bar, bercengkerama, lalu kembali ke meja ini dan memelukku. Kuhisap batang cengkeh ini dan kamu menenggak satu dua teguk dari mulut botol hijau itu. Aku pikir botol itu adalah jimatmu, mungkin jimat yang membuat tanganmu rileks sehabis penat bekerja. Kau terus menggenggamnya, sesekali memutar-mutar botol itu di genggamanmu, lalu kau teguk dan kembali kau mainkan. Aku duduk, menyesap manisnya batang ini dan kuembuskan napasku yang terbang membentuk tarian asap yang meliuk. Melihat, mengamatimu adalah satu hiburan bagiku. Seharusnya hal itu biasa saja, tapi kondisi kita tidak biasa bagiku, tepatnya sungguh kubenci. Itulah mengapa sering kita habiskan waktu untuk diam dan bertatap saja, terlebih di tengah k...

Hangat

Image
Senandung intro lagu itu mengalun dengan begitu rekat di kedua telinga. Ada perasaan tenang yang menyembuhkan ketika mendengarkannya, ada situasi yang tak disangka aku rindukan hanya karena rangkaian nada ini. Sekitar hampir sebulan lalu pertama kali aku mendengar dan menyaksikannya via internet. Kental dengan suasana Natal, karena untuk itulah lagu tersebut diciptakan. Tapi ada suasana sendu yang syahdu hadir di dalamnya, sendu yang nikmat, kala itu. Entah bagaimana, tapi tiba-tiba atmosfer ruangan, udara, suhu, dan rindu yang sama menyelimuti hawa tubuh dan perasaanku. Ini tempat yang berbeda, rasanya tidak mungkin aku merasakan hal yang sama, sungguh jauh berbeda. Aku diam, mendengarkan melodi piano berdenting indah mengiringi sang vokalis bernyanyi penuh rasa melalui suara setengah 'bindeng'nya itu, nyata, aura yang sama hadir. Nuansa rindu terhadap kamu. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, kenapa tidak? Aku ingat begitu rindu kamu ketika mendengarkan lagu ini kal...

Sederhana

Image
Aku menghitung titik-titik yang menyala di depanku. Kucoba hitung berapa luasnya, namun tak bisa juga walau mengira-ngira. Mereka jauh sekali, titik-titik itu, namun pendaran cahayanya mengedip hingga ke tempat aku berada ini. Sesekali kucoba kaburkan pandangan, hilangkan fokus dari kedua mataku hingga kudapati titik-titik itu berubah menjadi segi lima atau segi enam yang beririsan satu sama lain dalam warna yang beragam. Indah, seperti gambar-gambar cahaya malam yang sungguh aku sukai.  Tidak ada yang berkuasa malam ini, bahkan aku sekalipun. Walaupun aku sendiri di atas balkon, berada lebih tinggi dari titik-titik cahaya di pulau ini, aku tetap tidak berkuasa. Cahaya-cahaya itu jauh letaknya dan aku tidak tahu apa mereka, siapa yang menyalakan mereka, mengapa warna mereka berbeda. Namun, pada satu titik aku ingin tahu dan mengaburkan fokus pandanganku agar aku merasakan mereka lebih dekat. Warna-warna cahaya menjadi transparan dan menyatu dengan hitam langit malam, iris...

Surat untuk Seorang Pria

Selama ini aku memilih diam, tak jarang ketika aku tak kuasa menahannya, akan aku ungkap kepadamu. Bukan karena aku murahan, tapi karena aku menghargai keberadaan dirimu yang membuatku tak pernah resah untuk jujur mengenai apapun. Tak bisa kusangkal, kita memang tak mungkin bersama. Orangtuamu memang pernah menentang kita, pun orangtuaku. Tapi toh, ternyata, rasa ini tidak bisa dilawan. Buktinya kita terus menyempatkan diri untuk pergi ke tempat-tempat yang dulu kita sukai, menghabiskan waktu, merasa memiliki barang sebentar, lalu kembali pada kehidupan nyata yang tak memungkinkan aku bertandang ke rumahmu, atau kau ke dalam kehidupanku. Itulah kamu, itulah aku. Satu sama lain akan terus menjadi bayangan hingga aku tak tahu kapan menemui pintu yang hendak memerlihatkan kepada kita sebuah ruangan baru, untuk bersama. Entahlah, toh, kamu juga bukan tipe pria yang berpikir seharusnya kita tidak mengenal lagi satu sama lain. Toh, kita tetap bisa bercakap biasa saja atau sekadar ...

Aku Rindu Romantisme Hujan

Image
Tergiring rasa rindu di hati.  Rindu yang mengiris-iris sekat kalbu kala mendung menjemput, kala petir menyambar, dan kilat mengejutkan penglihatan sedetik. Rindu ini begitu sederhana hingga aku tak kuasa untuk utarakan, rindu ini amarah, sedikit marah. Tercium hawa ironi dalam kecap rasa.  Namun ternyata aku memang merindu, tak mampu pelak membaca sejuta kisah romantis yang sejukkan jiwa saat siang menjelang sore, saat hendak menjemput lembayung langit senja. Sejuta kisah kubaca dan kuresapi, dan ternyata aku mencinta keajaibannya. Di kala bumi sejenak menjadi tempat yang syahdu, teriring merdu rintikan mengurung kalbu dan raga di dalam sini. Hanya di dalam sini, sekat pelindung dari segala riuh gemericik bumi di luar sana. Oh, Tuhan, sungguh aku merindunya! Romansa hujan berpeluh senyum dan senyap nafas yang terpatri manis dalam hembusan embun esok. Terkadang melankoli yang dikhayalkan, mengesahkan luka untuk menjadi semakin perih kala memandan...

Seperti Embun, Sementara

Image
Seperti embun, ingin aku mengecup Lembut bercahaya, candu mendahaga Seperti embun, ingin aku menenun Kilat sempurna, bening tak bercelah pun berjarak Seperti embun, enggan aku jentik jemari Kan memecah, pemantik ruang tanda cela Seperti embun, satu sentak kau buat ia menetas Layaknya kehidupan, manusia, dan segala yang mati pun adalah bergerak. Tidak ada yang tetap, tidak ada yang sama, tidak tentu yang paten. Aku bertumbuh, aku berubah, dan aku bahkan menetapkan perubahan itu. Aku berorgan, aku berasa, dan aku berpikir. Satu kejora hanya akan menjadi kejora pada satu waktu itu, satu kali itu. Kejora berikutnya menunjukkan hal yang berbeda, kejora yang tidak lagi sama. Karena bintang tak pernah sama pun menetap di layar hitam kelam saat malam memayungi nafas tanah yang semakin lembab, basah akan hujan yang tadinya tidak turun menjadi turun, lalu deras, lalu reda. Mengubah hari menuju langit cerah di saat tak bermentari. Mengubah hari menuju monumen rasa ya...

Terimakasih, Langit

Tidak ada yang lebih indah daripada ini. Kamu menawarkan pesta, hiruk pikuk keramaian orang di sekitar, dan segala kemewahan kota. Saya tak inginkan itu. Mereka tak bisa sembuhkan saya. Hanya sesaat, tapi nafas pun tak sanggup saya hela untuk menjadi sedikit lega. Kamu terus-terusan membujuk saya bahwa ini adalah penyembuhan. Saya menggeleng, ini bukan penyembuhan. Ini hanya pelarian. Hingga akhirnya saya mampu berkata itu. Tidak ada yang menyembuhkan di kota, semua adalah skema, yang teratur, yang rapuh, yang menjauh, yang tak lagi erat, yang tak lagi sehat, yang penat. Kamu tercengang kala aku sanggup berkata tak ingin lari. Selama ini kamu memegang peran sebagai dokterku, yang tahu dan selalu memberi solusi seperti apa penyembuhan yang saya butuhkan. Tapi kamu tak tahu apa-apa tentang alam. Kamu tak mengerti betapa indahnya dia, Kamu tak tahu bahwa hidupmu adalah di alam. Kamu puja kota dan modernisme sebagai dewa yang menjawab segala persoalan. Lalu kamu terce...

Baiklah..

“Baiklah. Pergi saja, kapanpun kamu mau sehingga ini hanya menjadi sebuah masa yang pernah kau lewati. Aku tidak akan berusaha untuk memaksakan semua perkataan yang pernah terangkai adalah pengabsahan bahwa tindakanmu ini salah. Tidak. Siapa yang bodoh? Tidak ada. Aku dulu pernah bilang bahwa perisai yang begitu membuatku nyaman saat ini tidak bisa ditembus dan tidak kuijinkan untuk dibuka sehingga aku akan terus merasakan kenyamanan dan keamanan tiada tara itu, tanpa harus merasa takut dan berujung pada sebuah kesakitan. Ah, bisa jadi, aku yang bodoh. Ketika suatu saat nanti memang benar adanya aku sakit karena mu, siapa yang salah? Aku. Ya, aku. Perisai itu tidak lebih kuat dari kenyamanan lain yang selama ini belum aku dapatkan, sampai aku bertemu dengan kamu, yang berani dan nekat menawarkan itu semua. Tanpa mencoba naif ataupun munafik, kamu pun sungguh ingin menawarkan dengan sepenuh hati. Tapi, toh, kamu akan tetap menjadi sesuatu tanpaku. Ketika suatu saat nanti mema...

Musim Memanggil Kembali

Kelabu dan basah.  Aku mengusap tangan yang basah ke permukaan celana jeansku yang menganga di bagian lutut. Siang tidak bersahabat dalam sebulan terakhir dan aku harus rela merasa terbatas oleh guyuran hujan yang membanjur mentari hingga Ia redup. Sekujur badanku lembab, entah aku merasa nyaman atau tidak dengan kelembaban ini. Aku tidak menemukan permukaan yang kering hingga membuatku merasa aman untuk mengusap kulitku di sana, hanya agar kulitku menjadi licin dan kesat kembali. Cipratan air hujan di pinggir jalan pasrah kuresapi dan kutampung. Langit selalu kelam, terutama ketika hari beranjak sore. Aku mencium bau hujan, aku mencium bau rumput basah, aku mencium bau tanah yang menjadi lumpur seperti kopi susu namun menjijikkan. Aku diselimuti oleh udara lembab yang dingin menusuk setiap siang, menyisakan sedikit ruang dalam relung jiwaku untuk berpikir banyak. Ya, hanya menyisakan sedikit ruang, menghapus segala gelora yang harusnya aku miliki.  Maka di sinila...