Posts

Showing posts with the label perempuan

Feminine Quote from Anaïs Nin

A Spain-Cuban-French author who was famous for her journals. She was also known as a female erotica writer , a title that was rarely found in early 1900s.  These sentences are all about us, women—a wild  thought we keep to ourselves, a covert wish in our prayers: "I do not want to be the leader. I refuse to be the leader. I want to live darkly and richly in my femaleness. I want a man lying over me, always over me. His will, his pleasure, his desire, his life, his work, his sexuality the touchstone, the command, my pivot. I don’t mind working, holding my ground intellectually, artistically; but as a woman, oh, God, as a woman I want to be dominated. I don’t mind being told to stand on my own feet, not to cling, be all that I am capable of doing, but I am going to be pursued, fucked, possessed by the will of a male at his time, his bidding." Can't find a better way to express it. Originally posted on Facebook notes, 1 October 2009

Menghapus Bayang-Bayang

Image
Cerita Pendek Image source: here Menapakkan kaki di Jakarta ternyata menciptakan dilema bagiku. Di satu sisi, jengah dan sesak oleh pertarungan di jalan raya yang membunuh waktu dan merampas momen berharga yang bisa terjadi. Namun di sisi lain, kota ini menggantungkan harapan yang selalu bikin orang berlomba-lomba untuk menggapainya. Harapan itu berujung pada nama kelayakan dan bertengger di tepi-tepi deretan gedung yang tak henti mencakar langit. Kian tinggi dan kian padat. Aku sudah menetap di ibukota selama delapan tahun, terhitung semenjak kuliah. Sepanjang satu dasawarsa itu pula aku rutin mengunjungi kota asalku, biasanya dua kali dalam setahun. Dalam kurun waktu itu pula, setiap kembali ke ibukota dan menyaksikan pemandangan di pinggir jalan, aku masih berpikiran sama: wajah kota ini tak akan pernah luntur selain menjadi makin mewah. Seiring dengan gaya hidup yang menuntutnya, seiring dengan tuntutan hidup yang mendesak di dalamnya, dan seiring dengan keinginanku unt...

Dialog Tua yang Tak Usang

Dimuat di Femina, Edisi F35/September/2013 Aku menatap sofa merah tua di sudut ruangan putih ini. Aku masih ingat betapa ia menyayangi sofa itu, dan betapa ia bisa tenang sambil terpejam melemaskan seluruh badannya di atas bantalan lembut itu. Bahkan, aku masih bisa menggambar dengan jelas geraian rambut cokelat tuanya yang ia lampirkan dengan lemah lembut di bagian kepala sofa itu. Setiap pulang sekolah, atau setiap aku baru pulang dari kegiatan ekstrakulikuler, aku sering melihat ia berdiam diri di sana dan wajahnya terlihat tenteram. Jika ia sudah merasa cukup, ia akan bangkit dari sofa lalu menyapa dan memeluk tubuhku yang bau matahari. Namun, bau matahari yang panas itu mampu diredam oleh kehangatan tubuhnya. Aku sering menduduki sofa itu kala merindukannya, tiap ia pergi ke luar kota untuk urusan kerjaan, misalnya. Harum tubuh dan wangi parfumnya sudah melekat tak mau lepas dari permukaan beludru sofa merah tua yang sudah lekat dengan aroma tubuhnya, dan tak akan pernah bisa...

Sarisha

Cuaca sama sekali tidak bersahabat untuk menjadi ‘terang’ atau ‘cerah’ pun ‘ceria’. Sentakan-sentakan makin memadat dan menjadikan kini tidak bersahabat. Segala kewajiban akan aksi disongsong hanya dalam rangka untuk membuat hari menjadi penuh, menghilangkan ruang kosong dalam pikiran, agar tidak ada lagi keresahan yang bisa membuat air muka ompong. Sialnya, air muka tidak pernah berhasil berbohong, mungkin jika berhasil, hanya selama sedetik. Gadis itu datang, dengan figur yang tidak jelas. Ia tidak cerah, ia pun berusaha untuk menutupi mendung dari dirinya agar tak ada yang tahu, bahwa ia kelabu. Tapi, ia memilih datang padaku dan ini semakin menguatkan dugaanku akan kepincangan dan kebimbangannya. Sejenak aku mengamati air muka itu. Lonjong dan tampak segar, hanya saja matanya tampak lelah. Bukan hadirnya kantung mata dan lingkar hitam, tapi sorot matanya layu. Ia balas menatapku, tidak menunjukkan ketakutan, justru ia memancarkan energi penasaran yang sungguh besar. Ia tampaknya...

Feminine Quote from Anaïs Nin

1 Oktober 2009 A Spain-Cuban-French author, to be exact, who was famous because of her journals. She was also a female erotica writer, who were rarely be found at that period of time (early 1900). When I read these words, I know that these words have been in women's mind for centuries, for eras, and for lifetime. Because these sentences are all about us, the wildest way to say yet the covert wish in every woman's prayer: "I do not want to be the leader. I refuse to be the leader. I want to live darkly and richly in my femaleness. I want a man lying over me, always over me. His will, his pleasure, his desire, his life, his work, his sexuality the touchstone, the command, my pivot. I don’t mind working, holding my ground intellectually, artistically; but as a woman, oh, God, as a woman I want to be dominated. I don’t mind being told to stand on my own feet, not to cling, be all that I am capable of doing, but I am going to be pursued, fucked, possessed by t...

Pintaku

Jadilah seorang laki-laki sejati, be a man that could make me feel as a woman. Buatlah aku tak sanggup melawan perkataanmu hanya karena intonasi suaramu yang lembut namun membuatku segan, buatlah dirimu terlihat sungguh percaya diri hingga aku hanya ingin memeluk lenganmu untuk merasa nyaman, buatlah aku memercayai dirimu untuk menentukan pilihan hanya dari keputusan-keputusan kecil yang sering kau utarakan.  Ubahlah pandanganku tentang kaummu dari mengenalmu seorang. Jika selama ini aku banyak meminta dari seorang laki-laki, maka aku ingin permintaan-permintaan itu lenyap karena dirimu. Segala yang kau lakukan sebagai laki-laki haruslah mampu membunuh kriteria-kriteria yang ada di pikiranku mengenai lelaki, membunuh segala yang bisa kujadikan kekurangan dirimu. Buatlah dirimu tidak kekurangan secara berlebih dengan cara menjadi laki-laki seutuhnya, sepenuhnya, untukku. Kuasailah aku tanpa ragu, kuasai aku dengan mengenali aku seutuhnya. Kuasailah aku dengan misterimu, karena p...

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #4

The  Suffocation Jendela itu persegi empat, memanjang di sisi kamarnya dan menjadi sisi terfavoritnya menghabiskan waktu. Ia leluasa menatap dunia luar melalui jendela itu, walau tak banyak yang terjadi, seperti kendaraan yang kadang melintas, dan rumah-rumah di seberang pun tidak berubah ujud saat hari berganti, namun ia puas karena mampu melihat langit dan ruang udara di luar. Baginya, rutinitas tak banyak tenaga itu mampu membuat ruang kamarnya terlihat lebih luas dan lega. Siang itu cuaca terjadi sebagaimana musim berbicara, hujan, dan membuat ruang udara di luar terlihat kabur oleh rintikan hujan dan menjadikan langit abu. Nafas Sekar memelan, pandangannya mulai tak fokus. Angin dingin melipir menyusupi tiap celah ventilasi dan membuatnya terninabobokan perlahan. Matanya meredup, sisa kesadaran yang ia miliki justru membuainya semakin menghayati kantuk yang ternikmat di tengah siang seperti itu. Entah berapa lama ia mampu menahan katup matanya untuk terus terbuka, pe...

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #3

The First Sun Siang ini udara begitu bersahabat, walaupun ramalan cuaca di bulan-bulan belakangan selalu menunjukkan cuaca yang buruk, namun tampaknya alam ingin menghibur seluruh umat manusia hanya untuk hari ini. Lihat saja, langit biru cerah dengan semburat awan yang membentuk bantalan putih bak kapas yang tampak empuk untuk ditiduri. Matahari tidak kalah riang dengan senyumannya yang telah lama tidak nampak tersungging begitu jujur di atas sana. Saat ini, lihat saja, ia memamerkan sinar-sinar keemasan yang menyilaukan mata dan menghadirkan semburat garis cahaya hingga ujung telapak kaki Sekar. Hari ini tampak begitu selaras dengan apa yang Sekar rasakan. Entah mengapa, Sekar merasa begitu bersemangat untuk bertualang di seputar kota untuk hari ini. Sejak pagi, ia mengamati keadaan kota, ia merasakan gejolak untuk bercinta dengan hari yang cerah ini. Tidak ada awan mendung, tidak ada dedaunan coklat kusam yang berterbangan di sekitarnya, dan yang terpenting: tidak ada wajah ...

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #2

The Anxiety Tidak seharusnya aku banyak bertanya. Aku terlalu cemas dan resah akan kehadiran dia, sebagaimana aku resah kala angin enggan menghampiri untuk satu hari. Dunia ini sudah semakin tidak mesra, manusia semakin tidak tenggang rasa dan tidak akan segan untuk menyikut hati nurani siapa saja yang menghalangi mereka mendapatkan kebahagiaan. Aku termenung, tidak banyak melakukan gerak hirauan atas kerlipan sinar mentari yang tersisip di antara dedaunan pohon itu. Aku memandang sekeliling, hampa sekali. Jika saja aku diberikan ijin, aku ingin hidup di beberapa abad yang telah lewat dan berharap masih bisa menemukan harmonisasi. Harmonisasi yang adalah klimaks kedamaian kehidupan, yang tidak mungkin dapat diraih oleh dunia kini. Aku ingin menikmati setiap keindahan yang terjadi di dunia ini lalu memengaruhi siapa saja menjaga harmoni itu agar dunia tidak berubah menjadi seperti sekarang. Aku semakin terpuruk dengan harus terus berkompromi atas perasaanku. Tidak ad...

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #1

The Identity   Sosok itu hanya berdiri seolah merasa yang mampu diserap asa, namun ia tidak mampu menangkapnya. Terlalu banyak kebimbangan yang menerpa seiring hembusan angin yang menjalari kulitnya. Angin berhembus menari dan menyapa layaknya penari latar yang ingin tampak akrab dengannya, perempuan itu. Lekuk tubuhnya habis dilukis angin di udara hingga gaun itu terus tersibak, membentuk dengan jelas pola yang indah, pola perempuan itu. Sekar, itu namaku. Perempuan, itu yang dapat kuberitahu padamu, karena rahim yang ada dalamku. Feminim, itu identitasku. Karena itu yang orang katakan mengenai kaum kami, ah betapa identitas itu semu karena tidak dapat aku bentuk sendiri, namun mereka yang membentuknya! Dan resah, asa yang kini kuserapi, sendiri. Sekar terus berjalan, perlahan, kadang terhenti sesaat, menatap sebuah rasa rindu yang telah lama ia inginkan hadir kembali di pelukannya. Ia mencari-cari, menerawang ke atas sana, dimana langit begitu ramah akan ...

Surat untuk Seorang Pria

Selama ini aku memilih diam, tak jarang ketika aku tak kuasa menahannya, akan aku ungkap kepadamu. Bukan karena aku murahan, tapi karena aku menghargai keberadaan dirimu yang membuatku tak pernah resah untuk jujur mengenai apapun. Tak bisa kusangkal, kita memang tak mungkin bersama. Orangtuamu memang pernah menentang kita, pun orangtuaku. Tapi toh, ternyata, rasa ini tidak bisa dilawan. Buktinya kita terus menyempatkan diri untuk pergi ke tempat-tempat yang dulu kita sukai, menghabiskan waktu, merasa memiliki barang sebentar, lalu kembali pada kehidupan nyata yang tak memungkinkan aku bertandang ke rumahmu, atau kau ke dalam kehidupanku. Itulah kamu, itulah aku. Satu sama lain akan terus menjadi bayangan hingga aku tak tahu kapan menemui pintu yang hendak memerlihatkan kepada kita sebuah ruangan baru, untuk bersama. Entahlah, toh, kamu juga bukan tipe pria yang berpikir seharusnya kita tidak mengenal lagi satu sama lain. Toh, kita tetap bisa bercakap biasa saja atau sekadar ...

PERAWAN

Sejak lahir, aku menyadari keberadaanku sebagai seorang perempuan. Lalu aku pun tumbuh dengan penuh pengertian bahwa perempuan memiliki banyak harta yang sering diperebutkan bahkan diinjak. Sekali harta itu diinjak, bukan harta lagi namanya, perempuan akan jatuh miskin dan putus asa mendapati dirinya tidak memiliki harga untuk mendapat penghormatan di mata orang.  Dunia ini kejam, aku sering mendapati betapa kejamnya dunia terhadap perempuan. Bukan dicaci, bukan ditusuk dengan belati, bukan pula dikeroyok massal. Betapa kejamnya dunia ini telah menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak utama, ah ya, banyak legenda atau mitos yang mengagung-agungkan perempuan pada tempat yang tertinggi, tapi aku hidup bukan dalam legenda atau mitos. Aku hidup dalam dunia nyata yang kini mengungkungku dengan batas bulatnya bumi dan abstraknya roh dalam diriku. Sering aku marah, sering aku miris, menangis, atau hanya merenung dan terkadang senyum mengembang ketika memikirkan betapa ind...