Posts

Showing posts with the label Fiksi

Sangkut

Image
Foto:  Daniele Riggi  /  Unsplash Kamini Ada yang bilang kalau hanya butuh waktu singkat untuk mengetahui apakah jiwa kita bertalian dengan jiwa orang lain. Melalui kontak mata, itu semua bisa terjawab. Dua pasang mata kini tengah beradu tanpa pretensi, dan saat itulah aku tersadar. Matanya besar dan gelap. Namun ini bukan soal apakah matanya indah atau tidak. Aku hendak memberitahu apa yang aku temukan dari dua bola mata itu. Jurang. Ya, aku menemukan jurang yang begitu curam, dalam, dan membuatku terperenyak; aku jatuh bebas ke dalamnya! Gelap… gelap… menarikku begitu kuat, membuatku tak berdaya, hingga aku sadar ada yang mencelus di dalam diriku. Sekujur tubuhku bergidik. Perasaan ini baru. Dan biasanya, sesuatu yang baru akan terus mengejar ke mana pun kamu berpindah, bergerak, hingga kita tahu rupa asli beserta namanya. Apa ini? 14 Mei 2017 Kama Matanya besar dan gelap. Mungkin tidak sebesar mataku, tapi bulatnya begitu teduh oleh sebaris bulu ...

Sepuluh Jam

Image
Sumber foto: Cecile Hournau  /  Unsplash “Aku ingin menghabiskan malam dengan berciuman denganmu.” Tanpa menengok, aku tahu ada gelak senyum di sana. Aku merasakannya. Kamu nyengir sembari menundukkan kepala, menatapi gelas kopi yang kau pegang dengan ujung-ujung jemarimu. Kau putar-putar gelas itu seraya perlahan memiringkan kepalamu, menatapku masih dengan tersenyum. Kedua bibirmu terbuka tertutup, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi menariknya kembali—seperti sedang mencari-cari kata yang tepat. "Berapa lama? Sepanjang malam?"  Aku balik tersenyum sambil memalingkan wajah. "Ya, selama kita mampu—sepanjang malam lebih bagus." Jarak antara kursi kita dipisahkan meja kecil yang sesak oleh dua gelas, dua botol bir kosong, satu vas tanaman artifisial, dan asbak berisi onggokan puntung rokok yang nyaris luber dari wadahnya. Kita tergelak lalu saling menatap dari kursi masing-masing. "Kenapa, Kami?" tanyamu. Kuisap pangkal rokok sem...

Mereka

Mereka sibuk di belakangku. Meracau tanpa ampun, membuat bibir-bibirnya jadi keriting akibat mengoceh terlalu semangat. Katanya, aku penyakit sosial. Virus yang bisa menjangkiti anak-anaknya dan merusak moral mereka. Sumber dosa bagi para pasangannya yang selalu mengeluh tiap sadar waktunya pulang tiba. Mereka paling berkuasa di tataran sosial ini—setidaknya kulihat mereka merasa begitu. Karena mereka bisa memvonis tanpa bukti, tapi memakai prasangka yang mengkristal jadi tudingan. Dengan merapalkan barang sekalimat, ujaran mereka membeku jadi fakta. Lalu menyebar. Lalu dipercaya. Lalu diamini. Lalu jadi mata angin dalam bertindak. Lalu memicu reaksi, berkoar-koar bagai sedang memperjuangkan kemerdekaan negara di luar sana. Lalu jadi hukuman bagi orang-orang seperti aku. Mereka senang. Ambisi hidupnya hanya satu: menentukan nasib orang lain. Mengatur tata dunia lewat kata, dan ajakan bertindak dengan landasan serapuh daun kering. Ah, yang penting massa sudah setuju! Semakin banyak ...

Rasa yang Tak Pernah Pulang

Satu masa yang lampau, aku mungkin pernah berjanji bahwa rasa yang ada ini tidak akan pernah berubah. Setidaknya aku yakin pada waktu itu—berkeras kalau aku sanggup menjaganya sampai kapan pun. Setidaknya aku yakin pada waktu itu. Mungkin, aku tidak akan pernah berhasil menjelaskannya lewat kata-kata. Bagaimana takarannya? Apa simtomnya? Apakah karena aku rela meluangkan waktu sepenuhnya untuk dia? Apakah karena aku rela mengorbankan egoku demi sepakat dengannya? Apakah karena aku tidak bisa memikirkan yang lain selain dia? Apakah karena aku merindukannya tiap hari hingga tangis kerap mewarnai malam-malamku? Apakah karena aku selalu merasakan kebahagiaan saat bersamanya? Apakah karena ia selalu bisa membuatku merasa lebih baik dalam situasi buruk? Atau apakah karena aku tahu, betapa besar ia mencintaiku? Apa? Bagaimana rasanya? Percuma. Aku tidak ingat detailnya. Yang aku ingat hanya betapa besar rasa itu menghinggapiku, menjalari seluruh permukaan kulitku dan melahirkan satu se...

Selangkangan

Katanya selangkangan itu sakral, tapi bunyi katanya saja bikin dahi mengernyit. Bukan dahiku pastinya—karena aku suka selangkangan. Terutama saat sela-selanya basah, pertanda sang liang licin telah siap dihunjam. Atau sebaliknya, pertanda jejak permainan yang usai dan menyisakan mani yang mengerak. Katanya selangkangan itu sakral, jadi jangan main-main dengannya, terutama bila itu bukan milikmu. Entah bukan atau belum . Menurut kamus, dua-duanya tergolong zina. Tapi kamus luput akan satu hal: bersanggama—yang melibatkan selangkangan—itu naluri dasar manusia, si makhluk binatang yang instingnya adalah untuk dipuaskan. Titik. Maka tak salah bila aku menikmati pemandangan selangkangannya, yang saat itu bukan milikku. Namun dia leluasa mengangkang tanpa aku paksa. Aku ingin ia mengangkang di depanku, dan ia ingin mengangkang di depanku. * Di balik linen yang lembut, jari-jariku kembali menyusupi sela kedua pahanya. Terus menanjaki hilir menuju muara hingga aku dapat merasakan h...

Koneksi

Mereka bilang koneksi itu adalah sebuah mitos. Katanya, ada hal-hal lain yang lebih penting ketimbang koneksi jiwa saat kau memilih seseorang. Pernah kudengar pula kalau koneksi adalah sesuatu yang bisa kau pupuk hingga berkembang, mengakar, dan menjadi sesuatu yang mendasari. Konon pula, koneksi itu delusi yang hanya nyata dalam imajinasi. Apakah benar tidak ada namanya pertemuan dua jiwa yang—hanya melalui tatap—terasa begitu mantap; bahkan tanpa kata ataupun penjajakan? Benarkah hal ini mustahil? Apakah ini berarti segala sesuatu yang terjadi dalam sanubari manusia hanya patut dianggap masuk akal bila dapat dirasionalkan? Bahwa koneksi itu ada karena A, B, C, hingga Z. Sesederhana itukah alam pikiran kita? Segamblang itukah segala sesuatu yang terjadi dalam diri manusia—yang justru seringkali membuat kita kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya? Jakarta, 29 Mei 2017

Penasaran

Kamini Kurasa ini hanya atraksi sekejap yang menggoda. Ya, kesan pertama yang berjejak. Sudah natur manusia untuk mengikuti ke mana kemauan berlayar, dan itu... tidak terhentikan. Kurasa ini hanya soal waktu, serta seberapa jauh aku telah tahu  dan menyingkap yang tadinya sebatas isyarat. Misterius. Kamu tahu, itulah bahayanya manusia saat dahaga menguasai. Apa pun dapat terkabul, atas nama obsesi dan keingintahuan yang menggebu-gebu. Manusia itu haus,     dan instingnya adalah untuk selalu dipuaskan. Kama Tak usah bertanya soal makna. Terkadang ada hal-hal yang terjadi begitu saja, tanpa alasan pun pertimbangan. Hanya tindakan. Percayalah, yang terseru justru saat berburu, dan itu... nikmatnya bukan main (tentu saja masih kalah dengan nikmat bersanggama). Yang jelas, dia cukup menganggu. Dan aku tak suka diganggu. Tak perlu banyak menerka. Hukumnya sudah jelas kalau manusia itu gemar menaklukkan demi rasa penuh kuasa. Bahwa dirinya berharga dan diakui—terut...

Jiwa

Hanya dalam tiga detik, sepotong jiwa menyeruak keluar menerobos lorong gelap yang tak kenal dusta; mata. Hanya butuh tiga detik untuk membebaskan jiwa itu, menjelajahi pelosok-pelosok yang belum pernah ia temui dan sungguh haus untuk ia telusuri di ribuan detik setelahnya. Jiwa menghinggapi pagi, siang, dan malam sekenanya. Ia tak berencana, ia hanya berkelana. Ia tak banyak menimbang, ia hanya bertualang. Jiwa tak sadar, bahwa ia sedang menjelanak ke sepotong jiwa lainnya dan tanpa ia tahu, perlahan ia rasuki bulat-bulat. *menjelanak: menyelinap, menyusup Argo Parahyangan malam, menuju Jakarta, 27 Maret 2017

Nyali

Image
Pic: Tumblr Kamini Kamu tidak perlu bilang apa-apa. Matamu sudah bicara banyak, meski tanpa suara. Mau tahu apa katanya? Tatapannya yang lantang tak berkedip bilang kamu sadar kalau aku ada. Sorotnya yang seketika menyala bilang kamu menanti aku hadir. Pandangannya yang sigap berlari bilang kamu siaga, takut kalau-kalau basah tertangkap olehku. Tak apa. Akan kutunggu hingga dirimu sepenuhnya bernyali, lebih dari matamu. Kama Siapa dia? Aku tahu dia hanyalah seorang asing. Tapi, ada apa dengannya? Pertama kulihat ia, dibuatnya aku kelu. Mataku terpaku. Pikiranku beku. Padahal aku percaya, kalau tatapan pertama itu tak lebih dari pengalih perhatian, bujukan sesaat, namun belum tentu melekat. Dasar manusia. Kadang tak berdaya saat hal di luar logika bersuar. Tapi akan aku tunggu, sampai pikatnya menghantam akal dan buatku tak kuasa lagi. Sampai tersisa nyali yang sanggup bicara. Jakarta, 16 Februari 2017 *bersambung ke "Penasaran"

Kasmaran

Tatapan pria, saat ia tengah jatuh cinta, adalah tatapan paling magnetis yang pernah kuselami. Wajah pria, saat ia tengah tengah jatuh cinta, adalah wajah tertampan yang pernah kulihat. Seorang pria, saat ia tengah jatuh cinta, adalah seseorang paling menggairahkan yang pernah kutemui. Itulah mengapa seorang pria, saat ia tengah kasmaran padaku, adalah sosok yang selalu kurindukan dan kuelukan. Aku ingin menikmati tiap detik saat hasrat, energi, dan keelokannya memuncak—terpusat untukku, berpusar di aku.  Bagiku, tidak ada momen lain yang bisa mengalahkan indahnya perasaan dipuja seorang pria. Walau ini memang hanya sementara.  Geloranya akan redam, gemuruhnya akan reda, pun mabuknya akan padam begitu ia rampung menjalin potongan-potongan  puzzle tentangku, juga begitu terkuak bahwa cintanya berbalas. Perlahan, semua beralih tenang serta pasti. Jangkar telah mengakar dan ombak berganti riak. Maka aku akan lekas pergi, kembali mencari masa yang hilang—m...

Ranum (Fragmen #4)

Ranum adalah perempuan yang sanggup menyihirmu dalam waktu sekejap. Dia memiliki pesona yang tak kunjung habis hingga mampu membuat matamu terpaku padanya sepanjang hari. Dia memiliki karisma sekuat magnet hingga tidak dapat bertemu dengannya barang sehari merupakan ide yang mampu menyiksamu sepanjang malam. Dia memiliki paras seelok imajinasimu tentang kecantikan, yang membuat decakanmu tak pernah berakhir, dan hasratmu kian terpelihara. Ranum adalah perempuan yang sanggup menghancurkan pertahanan dirimu sebagai seorang laki-laki. Matanya teduh, menghanyutkan, dan itu justru membuatmu gila karena tak mungkin menghindarinya saat sedang berbincang. Caranya bertutur sungguh teratur namun mengalir tanpa dibuat-buat, dan itu justru membuat lidahmu kelu saat harus menanggapinya. Ranum adalah perempuan yang sanggup membuat malam-malammu tak tenang. Kesan mengenainya bisa berdiam di benakmu sepanjang hari, setiap detik, di kala kau hendak tidur, di waktu pikiranmu tengah beralih dari...

Ranum (Fragmen #3)

Image
"Kerinduan yang lambat laun menggerogotiku sebagai perempuan sempurna." (Sumber: weheartit.com ) Ada banyak tantangan menjalani hidup sebagai perempuan. Baru kusadari kini, kedua orang tuaku mendidik anak-anak perempuannya berlandaskan kalimat itu sebagai skemanya. Bila ketiga anak gadisnya dewasa kelak, mereka harus sadar bahwa ada peran-peran yang harus dipenuhi dan agar kehidupannya sentosa, maka mereka harus mampu mengisi peran-peran tersebut. Mungkin begitu ayah dan ibuku memadukan visinya selama membesarkan kami—aku dan kedua adikku.

Sakit Hati

Image
"Hatiku serasa lepas dari rangka yang menopangnya." (Sumber: Lunaoki.tumblr.com ) Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar, apalagi bila dihabiskan dengan setia terhadap hal yang tidak ada, atau tepatnya, tidak pernah bisa aku miliki. Kali ini, setia bukanlah sesuatu yang bisa dimaknai positif karena memang tidak membuahkan hasil yang konstruktif untukku. Menakjubkan. Inspiratif. Luar biasa. Salut! Ada yang bilang begitu. Tapi dalam hati, aku tersenyum miris dan merasa ironis. Bagaimana caranya aku bisa membanggakan kesetiaan dalam menjaga perasaanku untuk seseorang yang pada akhirnya tidak menjadi milikku? Dari sisi mana perjuangan seperti ini patut diberikan pujian? Lebih masuk akal mereka yang mengataiku bodoh tanpa belas kasihan. Sudah terlalu lelah mereka mengumbar empati. “Kamu memetik apa yang kamu tanam.” “Sakit hatimu ini muncul karena pilihanmu sendiri.” “Bagaimana kamu bisa memilikinya kalau ia tahu pun tidak?” Sejuta cacian serupa tak he...

Tiga Puluhan dan Masih Sendiri

Image
Parkiran apartemen masih lengang. Kulirik arloji di tangan yang menunjukkan pukul lima sore. Orang-orang masih beredar di luar sana. Mesin mobil kumatikan lalu kugapai dua tas di jok belakang seraya membuka pintu kemudian beranjak keluar. Lampu lantai parkiran bawah tanah ini sudah dinyalakan karena meski langit tak gelap pun, tak ada sinar matahari yang masuk. Langkahku ringan menuju lift dan kutempelkan kartu penghuni ke mesin pemindai; seketika tombol bertuliskan angka 15 menyala. * Tak tok tak tok… Suara hak sepatuku memecah keheningan sepanjang lorong lantai 15, selain geledek di luar sana. Hujan mengguyur dari pagi dan membuat hari ini sendu. Semua orang setengah hati menjalani rutinitas dan yang dilakukan dengan sepenuh hati hanyalah menunggu waktunya pulang. Aku sempat terdiam sejenak saat memutar kunci di pintu unitku—tebersit untuk mampir ke unit Ateira. Namun kuputuskan untuk beristirahat dulu dan menghubunginya menjelang makan malam nanti. Baru sekitar lima men...