Posts

Showing posts with the label Cerpen

Sepuluh Jam

Image
Sumber foto: Cecile Hournau  /  Unsplash “Aku ingin menghabiskan malam dengan berciuman denganmu.” Tanpa menengok, aku tahu ada gelak senyum di sana. Aku merasakannya. Kamu nyengir sembari menundukkan kepala, menatapi gelas kopi yang kau pegang dengan ujung-ujung jemarimu. Kau putar-putar gelas itu seraya perlahan memiringkan kepalamu, menatapku masih dengan tersenyum. Kedua bibirmu terbuka tertutup, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi menariknya kembali—seperti sedang mencari-cari kata yang tepat. "Berapa lama? Sepanjang malam?"  Aku balik tersenyum sambil memalingkan wajah. "Ya, selama kita mampu—sepanjang malam lebih bagus." Jarak antara kursi kita dipisahkan meja kecil yang sesak oleh dua gelas, dua botol bir kosong, satu vas tanaman artifisial, dan asbak berisi onggokan puntung rokok yang nyaris luber dari wadahnya. Kita tergelak lalu saling menatap dari kursi masing-masing. "Kenapa, Kami?" tanyamu. Kuisap pangkal rokok sem...

Sakit Hati

Image
"Hatiku serasa lepas dari rangka yang menopangnya." (Sumber: Lunaoki.tumblr.com ) Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar, apalagi bila dihabiskan dengan setia terhadap hal yang tidak ada, atau tepatnya, tidak pernah bisa aku miliki. Kali ini, setia bukanlah sesuatu yang bisa dimaknai positif karena memang tidak membuahkan hasil yang konstruktif untukku. Menakjubkan. Inspiratif. Luar biasa. Salut! Ada yang bilang begitu. Tapi dalam hati, aku tersenyum miris dan merasa ironis. Bagaimana caranya aku bisa membanggakan kesetiaan dalam menjaga perasaanku untuk seseorang yang pada akhirnya tidak menjadi milikku? Dari sisi mana perjuangan seperti ini patut diberikan pujian? Lebih masuk akal mereka yang mengataiku bodoh tanpa belas kasihan. Sudah terlalu lelah mereka mengumbar empati. “Kamu memetik apa yang kamu tanam.” “Sakit hatimu ini muncul karena pilihanmu sendiri.” “Bagaimana kamu bisa memilikinya kalau ia tahu pun tidak?” Sejuta cacian serupa tak he...

Tiga Puluhan dan Masih Sendiri

Image
Parkiran apartemen masih lengang. Kulirik arloji di tangan yang menunjukkan pukul lima sore. Orang-orang masih beredar di luar sana. Mesin mobil kumatikan lalu kugapai dua tas di jok belakang seraya membuka pintu kemudian beranjak keluar. Lampu lantai parkiran bawah tanah ini sudah dinyalakan karena meski langit tak gelap pun, tak ada sinar matahari yang masuk. Langkahku ringan menuju lift dan kutempelkan kartu penghuni ke mesin pemindai; seketika tombol bertuliskan angka 15 menyala. * Tak tok tak tok… Suara hak sepatuku memecah keheningan sepanjang lorong lantai 15, selain geledek di luar sana. Hujan mengguyur dari pagi dan membuat hari ini sendu. Semua orang setengah hati menjalani rutinitas dan yang dilakukan dengan sepenuh hati hanyalah menunggu waktunya pulang. Aku sempat terdiam sejenak saat memutar kunci di pintu unitku—tebersit untuk mampir ke unit Ateira. Namun kuputuskan untuk beristirahat dulu dan menghubunginya menjelang makan malam nanti. Baru sekitar lima men...

Balada Komitmen

Cerpen Dua pasang mata saling menatap. Di tengah keriuhan malam yang riang hawanya, kita kembali bertemu setelah sekian lama hidup di jalan dan tempat yang berbeda. Tidak ada yang memaksa kita untuk berpisah. Ini hanya salah satu bagian dari proses alami kehidupan yang dulu sering kita kutuk bersama: “perihal menjadi dewasa”. Tatapan mata kita kerap diselingi oleh picingan mengamati, mendengarkan, atau sorot penuh asumsi. Kita tak bisa menghindari berapa kali saling menebak, merasa masih saling mengetahui kehidupan satu dan yang lain. Padahal tidak. Nyatanya, banyak persoalan hidup yang sudah terlewati dari pengetahuan masing-masing. Tatapan mata kita juga tak jarang diramaikan oleh kerut bahagia, kerut tawa penuh rasa geli di saat bertukar bermacam kisah. “Aku masih sulit percaya,” ujarmu sambil menggelengkan kepala tanda takjub. “Sulit percaya bagian mana?” imbuhku. Kamu menghela napas lalu terkekeh, “Ini... Kita... Sekarang,” katamu. Aku spontan terkekeh pula, “Hidup,” k...

[DRAFT]

"Seperti apa rasanya?" tanya lelaki di depanku, menatap lekat batang hidungku yang dingin. Melekatkan razia tatapannya ke seluruh penjuru wajahku yang kaku. Tidak peduli dengan tatapan yang menelanjangiku, aku teguk dalam-dalam rasa yang kupaksa larut bersama air putih dari gelas hijau ini. Aku sibuk menata ingatanku, tidak hanya lima jam barusan, tapi lompat mundur pada masa-masa sebelumnya, di mana rasa yang eksis ini tidak pernah unjuk gigi. Sejenak, aku menatapnya, lelaki di depanku, yang wajahnya melongo penasaran menanti jawaban. Tidak aku hiraukan, aku memilih larut ke dalam eksistensi kenangan dan masa depanku, kiniku. Kamu. Siapa kamu, ya? Omong-omong, aku pun tidak begitu jelas mengenalmu, hanya melalui dunia maya kita bertegur sapa, berbincang ngalor-ngidul tak tentu arah, lama-lama liar membabi buta, berujung pada pola membebaskan segala bebat moral dan nilai yang sudah difatwakan, oleh pengetahuan. Ya, karena dunia tidak pernah memfatwakan apapun kecuali hukum ...

Nihil

Cerita Pendek "Kenapa kamu tidak bilang saja bahwa aku salah?" tanyamu. "... Apa itu yang kamu inginkan?" aku balik bertanya, malah jadi bingung. Kamu terdiam, lalu menghela napas. Napas yang berat bunyinya. "Nggg... Rasanya bakal lebih mudah untuk kudengar," katamu, tersirat pula rasa bingung di sana. "Aku terbiasa dinilai," ujarmu. Kedua mata kecil itu meredup, pelipismu menegang dan air mukamu penuh riak keresahan. "Bagiku, akan lebih mudah untuk dinilai salah, benar, kurang, terlalu, atau lainnya, agar aku bisa menentukan sikap untuk mengatasi hal itu. Sedangkan kamu, kamu tidak pernah menilaiku. Kamu selalu mementingkan apa yang aku rasakan dan inginkan. Belum pernah ada yang begitu." Aku latah menghela napas. Antara menyesal dan menjadi lega, keduanya campur aduk. "Aku cuma ingin kamu sadar kalau tidak ada satu orang pun di dunia ini yang sanggup mengerti perasaan orang lain sepenuhnya. Masing-masing manusi...

Menghapus Bayang-Bayang

Image
Cerita Pendek Image source: here Menapakkan kaki di Jakarta ternyata menciptakan dilema bagiku. Di satu sisi, jengah dan sesak oleh pertarungan di jalan raya yang membunuh waktu dan merampas momen berharga yang bisa terjadi. Namun di sisi lain, kota ini menggantungkan harapan yang selalu bikin orang berlomba-lomba untuk menggapainya. Harapan itu berujung pada nama kelayakan dan bertengger di tepi-tepi deretan gedung yang tak henti mencakar langit. Kian tinggi dan kian padat. Aku sudah menetap di ibukota selama delapan tahun, terhitung semenjak kuliah. Sepanjang satu dasawarsa itu pula aku rutin mengunjungi kota asalku, biasanya dua kali dalam setahun. Dalam kurun waktu itu pula, setiap kembali ke ibukota dan menyaksikan pemandangan di pinggir jalan, aku masih berpikiran sama: wajah kota ini tak akan pernah luntur selain menjadi makin mewah. Seiring dengan gaya hidup yang menuntutnya, seiring dengan tuntutan hidup yang mendesak di dalamnya, dan seiring dengan keinginanku unt...

Dialog Tua yang Tak Usang

Dimuat di Femina, Edisi F35/September/2013 Aku menatap sofa merah tua di sudut ruangan putih ini. Aku masih ingat betapa ia menyayangi sofa itu, dan betapa ia bisa tenang sambil terpejam melemaskan seluruh badannya di atas bantalan lembut itu. Bahkan, aku masih bisa menggambar dengan jelas geraian rambut cokelat tuanya yang ia lampirkan dengan lemah lembut di bagian kepala sofa itu. Setiap pulang sekolah, atau setiap aku baru pulang dari kegiatan ekstrakulikuler, aku sering melihat ia berdiam diri di sana dan wajahnya terlihat tenteram. Jika ia sudah merasa cukup, ia akan bangkit dari sofa lalu menyapa dan memeluk tubuhku yang bau matahari. Namun, bau matahari yang panas itu mampu diredam oleh kehangatan tubuhnya. Aku sering menduduki sofa itu kala merindukannya, tiap ia pergi ke luar kota untuk urusan kerjaan, misalnya. Harum tubuh dan wangi parfumnya sudah melekat tak mau lepas dari permukaan beludru sofa merah tua yang sudah lekat dengan aroma tubuhnya, dan tak akan pernah bisa...

Monolog Lejar

Image
Biasanya tidak begini. Sekujur betis, tulang kering, dan tulang panggulku mulai nyeri. Kesemutan seperti aku belum pernah melakukan pose ini. Biji-biji keringat mulai menggelinding dengan deras, dari pori-pori kulit kepala, jatuh ke batang hidung, membuat asin tersesap selewat di bibirku, dan seluruh tubuhku basah. 20 detik lagi... 15... 10... 5... "Fyuuuhhh!" desahku berat bersamaan dengan tumpuanku yang langsung jatuh berpegangan pada tiang kayu yang melintang di sepanjang tepi kaca ruangan ini. Aku menghirup napas dengan rakus, dalam namun pendek-pendek dan terengah-engah. Lima belas menit hanya aku habiskan dengan melakukan posisi mendak.  Pose ini adalah gerakan yang mendominasi tubuh seorang penari Jawa saat berlaga; berdiri dengan posisi kedua tungkai kaki ditekuk sehingga menciptakan bentuk seperti ketupat jika dilihat dari depan dan belakang, dan kedua telapak kaki menghadap berlawanan ke sisi luar. Sepanjang tarian, seorang penari Jawa pasti melakukan posis...

Karangan Angan

Kamu merapatkan jari-jarimu dan membentuk cekungan dengan telapak tanganmu lalu mendaratkannya di pipiku. Tanpa kata-kata, kamu menatapku dan mata itu hanya bergerak saat kamu mengedipkannya. Berselang dua detik kemudian kamu mengusapkan ibu jarimu ke kulit pipiku sambil terus mengamati air wajahku yang tak berubah: diam. Kedua bola mata itu layu, sekaligus tegas dan menyiratkan pandangan yang seolah berkata, "Hari ini sungguh melelahkan, sebaiknya kita tidur saja." Tapi kamu tidak beranjak, melainkan tetap memandangiku lekat sembari mengusap ibu jarimu itu berulang-ulang ke arah yang berlawanan. Dua menit berselang, kamu tak juga berhenti dan aku makin tak mengerti harus apa. Apa? Aku tidak ingin kamu berhenti menatapku saat itu dan aku juga tidak ingin waktu berlalu hingga jari-jarimu terpaksa lepas landas dari kulit pipiku. Dua puluh menit waktu telah berputar, namun pergerakan kita di seluruh sudut ruangan ini masih terselimuti oleh diam. Krrrrrr.... Keran di wastafe...

Layang-layang Hitam

Image
Aku berlari sekencang mungkin, tanpa menoleh ke belakang dan tak peduli dengan napas yang makin terengah-engah cenderung hampir habis ini. Tak ada udara tersisa yang bisa aku hirup karena semua menabrak permukaan kulit wajahku, perih rasanya. Jalan di depan masih tak ada ujungnya, namun selama kulihat jalan masih beraspal, aku akan terus mengayuh kakiku melawan udara dan terus melihat ke depan. Tak tahu berapa meter atau kilometer sudah terlampaui, apa yang aku inginkan hanya segera menjauh dari langkah pertama kakiku menjejak tadi. Gelegar di langit terasa makin mendekat, angin-angin meniupkan dedaunan yang menempel di betis telanjangku dan membuat aku sadar makin lama makin berat dan habis napasku. Image source:   here Lariku memelan dan tenagaku terasa makin habis, tubuh ini sudah menurun dayanya setelah mati-matian aku mengurasnya selama beberapa lama tadi. Ada sebuah pohon tak jauh dari tempat aku berpijak terseok-seok kini, tanganku memegang perut dan dada...

Jatuh Cinta Lagi

Ada semburat cahaya yang membuat malam-malam agak berbeda. Hujan yang belakangan ini tak henti mengguyur permukaan bumi meredam terang sinarnya menjadi tipis, semburat yang tipis namun mampu mengusir kabut yang beberapa waktu ini menyelimutiku. Jalanan lengang, aspal basah, titik-titik air yang berdiam di kaca masih menempel, semuanya meninggalkan jejak mistis sang malam yang tersisa. Aku matikan mesin mobil setelah mendapatkan lahan parkir yang nyaman, tepat di depan pintu masuk kafe kecil sederhana yang sama sekali tak menarik penampakannya. “Satu corona ,” ujarku pada pelayan kafe itu, seorang pria muda yang selalu melayani pelanggan dengan ramah tamah yang berlebihan, demi dianggap asyik dan tampak akrab dengan siapapun yang melenggang di area kafe kecil remang itu. “Sendiri aja, Mbak?” tanyanya sambil menarik lembaran menu dari atas meja depanku, lalu membetulkan posisi topi baseball merahnya. Aku tersenyum pendek, “ Nunggu ,” jawabku seadanya lalu mengambil telepon sel...

Sarisha

Cuaca sama sekali tidak bersahabat untuk menjadi ‘terang’ atau ‘cerah’ pun ‘ceria’. Sentakan-sentakan makin memadat dan menjadikan kini tidak bersahabat. Segala kewajiban akan aksi disongsong hanya dalam rangka untuk membuat hari menjadi penuh, menghilangkan ruang kosong dalam pikiran, agar tidak ada lagi keresahan yang bisa membuat air muka ompong. Sialnya, air muka tidak pernah berhasil berbohong, mungkin jika berhasil, hanya selama sedetik. Gadis itu datang, dengan figur yang tidak jelas. Ia tidak cerah, ia pun berusaha untuk menutupi mendung dari dirinya agar tak ada yang tahu, bahwa ia kelabu. Tapi, ia memilih datang padaku dan ini semakin menguatkan dugaanku akan kepincangan dan kebimbangannya. Sejenak aku mengamati air muka itu. Lonjong dan tampak segar, hanya saja matanya tampak lelah. Bukan hadirnya kantung mata dan lingkar hitam, tapi sorot matanya layu. Ia balas menatapku, tidak menunjukkan ketakutan, justru ia memancarkan energi penasaran yang sungguh besar. Ia tampaknya...

Wounded Heart

Suhu Bandung malam ini terpantau 21° Celcius, demikian yang  terbaca di halaman utama mikro blog populer ini. Sejak sore hujan mengguyur seluruh wilayah Bandung secara bergantian, tadi siang deras di wilayah Barat, kini Bandung Timur sudah kuyup. Tetes-tetes air hujan memenuhi kaca depan mobilku, membuat pandangan buram, hanya tampak buliran bening berwarna kuning akibat diterpa biasan lampu jalan dan kendaraan yang lalu lalang. Suara “cetak cetuk” lampu sen semakin mengganggu hingga akhirnya kuhentikan saja. Udara dalam mobil begitu dingin menusuk hingga kutarik lengan jaket yang tadinya tergulung hingga siku sampai menutupi pergelangan tanganku. Hufff.... Kuhela hembus napas yang berat, terasa tak tentu, serasa mengembuni paru-paruku seperti embun hasil pertarungan suhu mulai melapisi kaca-kaca mobilku. Diam dalam kesendirian diriku di balik kemudi, latar suara Morrissey yang sengau melantunkan ‘ Let Me Kiss You ’  menguasai ruang tert...