Posts

Showing posts with the label Sekar

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #4

The  Suffocation Jendela itu persegi empat, memanjang di sisi kamarnya dan menjadi sisi terfavoritnya menghabiskan waktu. Ia leluasa menatap dunia luar melalui jendela itu, walau tak banyak yang terjadi, seperti kendaraan yang kadang melintas, dan rumah-rumah di seberang pun tidak berubah ujud saat hari berganti, namun ia puas karena mampu melihat langit dan ruang udara di luar. Baginya, rutinitas tak banyak tenaga itu mampu membuat ruang kamarnya terlihat lebih luas dan lega. Siang itu cuaca terjadi sebagaimana musim berbicara, hujan, dan membuat ruang udara di luar terlihat kabur oleh rintikan hujan dan menjadikan langit abu. Nafas Sekar memelan, pandangannya mulai tak fokus. Angin dingin melipir menyusupi tiap celah ventilasi dan membuatnya terninabobokan perlahan. Matanya meredup, sisa kesadaran yang ia miliki justru membuainya semakin menghayati kantuk yang ternikmat di tengah siang seperti itu. Entah berapa lama ia mampu menahan katup matanya untuk terus terbuka, pe...

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #3

The First Sun Siang ini udara begitu bersahabat, walaupun ramalan cuaca di bulan-bulan belakangan selalu menunjukkan cuaca yang buruk, namun tampaknya alam ingin menghibur seluruh umat manusia hanya untuk hari ini. Lihat saja, langit biru cerah dengan semburat awan yang membentuk bantalan putih bak kapas yang tampak empuk untuk ditiduri. Matahari tidak kalah riang dengan senyumannya yang telah lama tidak nampak tersungging begitu jujur di atas sana. Saat ini, lihat saja, ia memamerkan sinar-sinar keemasan yang menyilaukan mata dan menghadirkan semburat garis cahaya hingga ujung telapak kaki Sekar. Hari ini tampak begitu selaras dengan apa yang Sekar rasakan. Entah mengapa, Sekar merasa begitu bersemangat untuk bertualang di seputar kota untuk hari ini. Sejak pagi, ia mengamati keadaan kota, ia merasakan gejolak untuk bercinta dengan hari yang cerah ini. Tidak ada awan mendung, tidak ada dedaunan coklat kusam yang berterbangan di sekitarnya, dan yang terpenting: tidak ada wajah ...

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #2

The Anxiety Tidak seharusnya aku banyak bertanya. Aku terlalu cemas dan resah akan kehadiran dia, sebagaimana aku resah kala angin enggan menghampiri untuk satu hari. Dunia ini sudah semakin tidak mesra, manusia semakin tidak tenggang rasa dan tidak akan segan untuk menyikut hati nurani siapa saja yang menghalangi mereka mendapatkan kebahagiaan. Aku termenung, tidak banyak melakukan gerak hirauan atas kerlipan sinar mentari yang tersisip di antara dedaunan pohon itu. Aku memandang sekeliling, hampa sekali. Jika saja aku diberikan ijin, aku ingin hidup di beberapa abad yang telah lewat dan berharap masih bisa menemukan harmonisasi. Harmonisasi yang adalah klimaks kedamaian kehidupan, yang tidak mungkin dapat diraih oleh dunia kini. Aku ingin menikmati setiap keindahan yang terjadi di dunia ini lalu memengaruhi siapa saja menjaga harmoni itu agar dunia tidak berubah menjadi seperti sekarang. Aku semakin terpuruk dengan harus terus berkompromi atas perasaanku. Tidak ad...

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #1

The Identity   Sosok itu hanya berdiri seolah merasa yang mampu diserap asa, namun ia tidak mampu menangkapnya. Terlalu banyak kebimbangan yang menerpa seiring hembusan angin yang menjalari kulitnya. Angin berhembus menari dan menyapa layaknya penari latar yang ingin tampak akrab dengannya, perempuan itu. Lekuk tubuhnya habis dilukis angin di udara hingga gaun itu terus tersibak, membentuk dengan jelas pola yang indah, pola perempuan itu. Sekar, itu namaku. Perempuan, itu yang dapat kuberitahu padamu, karena rahim yang ada dalamku. Feminim, itu identitasku. Karena itu yang orang katakan mengenai kaum kami, ah betapa identitas itu semu karena tidak dapat aku bentuk sendiri, namun mereka yang membentuknya! Dan resah, asa yang kini kuserapi, sendiri. Sekar terus berjalan, perlahan, kadang terhenti sesaat, menatap sebuah rasa rindu yang telah lama ia inginkan hadir kembali di pelukannya. Ia mencari-cari, menerawang ke atas sana, dimana langit begitu ramah akan ...