Posts

Ranum

Usianya memang tidak bisa dibilang belia lagi. Aku menggambarkannya dengan kata matang. Auranya juga bukan lagi ibarat bunga yang baru mekar merekah, melainkan bagai buah yang telah masak; aku seringkali membayangkan betapa nikmat bila bisa memetik lalu menyantap dagingnya yang ranum. Tanpa lelah, pikiran ini mulai mengusik diriku secara rutin. Ada berjuta alasan bagiku untuk tidak melupakan fantasi ini—malah justru memeliharanya. Pertama dan klise, aku tidak pernah menghendakinya untuk datang, semua terjadi tanpa aku sadari. Namun bila kuingat dengan cermat, inilah keajaibannya, bahwa ia tidak pernah mencoba mencuri perhatianku dengan sengaja. Setiap hari aku melihat rupanya dan tak jarang pula kami saling menyapa. Hanya sebatas itu. Hingga pada suatu siang aku begitu asyik melamun ke arah jendela yang luas demi menemukan inspirasi untuk materi pemasaran produk baru. Tiba-tiba pandanganku terhalang oleh satu sosok yang mendadak berdiri. Saat itu matahari tengah tinggi dan sinaran...

Catatan #1

Karena setiap detik yang saya habiskan untuk memaklumi kondisi 'sedang tidak bisa menuangkan apa pun ke dalam tulisan' adalah penyebab utama menumpulnya kemampuan saya dalam menulis.

Wisdom #1

"People's pursuit of material things in life, the concept that only physical things are real, has really impacted and damaged traditional culture and martial arts." -Longfei Yang, Master of 7 Star Praying Mantis

Balada Komitmen

Cerpen Dua pasang mata saling menatap. Di tengah keriuhan malam yang riang hawanya, kita kembali bertemu setelah sekian lama hidup di jalan dan tempat yang berbeda. Tidak ada yang memaksa kita untuk berpisah. Ini hanya salah satu bagian dari proses alami kehidupan yang dulu sering kita kutuk bersama: “perihal menjadi dewasa”. Tatapan mata kita kerap diselingi oleh picingan mengamati, mendengarkan, atau sorot penuh asumsi. Kita tak bisa menghindari berapa kali saling menebak, merasa masih saling mengetahui kehidupan satu dan yang lain. Padahal tidak. Nyatanya, banyak persoalan hidup yang sudah terlewati dari pengetahuan masing-masing. Tatapan mata kita juga tak jarang diramaikan oleh kerut bahagia, kerut tawa penuh rasa geli di saat bertukar bermacam kisah. “Aku masih sulit percaya,” ujarmu sambil menggelengkan kepala tanda takjub. “Sulit percaya bagian mana?” imbuhku. Kamu menghela napas lalu terkekeh, “Ini... Kita... Sekarang,” katamu. Aku spontan terkekeh pula, “Hidup,” k...

Avowal

I resign from the altered world here; pull myself back onto the ground where I can stand. Through the eyes I witness what lies before us. All.  I stop to wander among the mannered; drown myself apart from the clown. Inside my mind I find a peace, acknowledge that somewhere deep down, there is a crave to showcase ego. The ego that is of no use. I divert to reality; I convert the crave; I revert to the worth. That is world. *we can not simplify the universe into some codes*  [Makassar, 12 & 17 Sept 2014]

[DRAFT]

"Seperti apa rasanya?" tanya lelaki di depanku, menatap lekat batang hidungku yang dingin. Melekatkan razia tatapannya ke seluruh penjuru wajahku yang kaku. Tidak peduli dengan tatapan yang menelanjangiku, aku teguk dalam-dalam rasa yang kupaksa larut bersama air putih dari gelas hijau ini. Aku sibuk menata ingatanku, tidak hanya lima jam barusan, tapi lompat mundur pada masa-masa sebelumnya, di mana rasa yang eksis ini tidak pernah unjuk gigi. Sejenak, aku menatapnya, lelaki di depanku, yang wajahnya melongo penasaran menanti jawaban. Tidak aku hiraukan, aku memilih larut ke dalam eksistensi kenangan dan masa depanku, kiniku. Kamu. Siapa kamu, ya? Omong-omong, aku pun tidak begitu jelas mengenalmu, hanya melalui dunia maya kita bertegur sapa, berbincang ngalor-ngidul tak tentu arah, lama-lama liar membabi buta, berujung pada pola membebaskan segala bebat moral dan nilai yang sudah difatwakan, oleh pengetahuan. Ya, karena dunia tidak pernah memfatwakan apapun kecuali hukum ...

Selamat Istirahat, Tana

Image
"Kasihan, dia sudah tidak bisa melompat ke atas kursi itu lagi," kisah Mama, tahun lalu. Waktu itu saya sedang pulang ke rumah di Balikpapan, yang juga telah menjadi rumah Tana, anjing piaraan kami, selama sekitar 13 tahun. Mendengar ujaran Mama, saat itu saya baru sadar bahwa anjing ini sudah lanjut usia. Ia telah menghuni rumah kami semenjak saya masih kelas 1 SMP, hingga saya lulus sekolah, pergi melanjutkan kuliah ke Bandung, lulus kuliah, bekerja, dan menikah. Ia juga telah mengalami berbagai fase yang terjadi di rumah itu. Mulai dari saat empat tuannya masih tinggal bersama di sana (kakak perempuan saya sudah merantau ke Bandung saat itu), lalu satu per satu dari kami meninggalkan rumah itu; kakak laki-laki saya kuliah ke Jogja, saya ke Bandung, ayah pindah ke Jogja setelah pensiun, mama menyusul ayah ke Jogja setelah pensiun lima tahun setelahnya, hingga sampai kakak laki-laki saya kembali bekerja di Balikpapan dan menjadi majikan satu-satunya bagi Tana. Bal...