Posts

Pertanyaan Tentang 'Mimpi'

Singkat saja, ibarat pohon dengan cabang ranting, daun, dan buah sebagai mimpi yang hendak dikejar dalam hidup, saya sedang berada di atas akar dan terus menengadah ke atas. Belum ada apa-apa yang menggelantung di pohon saya. Batang pohon milik saya belum tua dan keriput pertanda pohon yang kuat serta kokoh. Saya masih berdiri diam mengelus-elus akar muda yang masih lembek. Walaupun demikian, saya lihat pagar di sekitar pekarangan ini makin kokoh. Jadi saya tak perlu khawatir jika harus pergi beberapa lama untuk mencari pupuk dan vitamin agar perlahan-lahan batang mungilnya tumbuh hingga menguat menjadi pohon yang mantap. Kira-kira, apakah blog ini akan terus menjadi saksi perjalanan saya hingga pohon milik saya sudah berbuah dan tak tergoyahkan oleh angin badai nantinya? Dua tahun ke depan, setinggi apakah pohon saya?

Wonderful December

Image
December 1st, 2010 " Garuda last flight, 21.05-22.00, Bpp-Jkt. See you there, baby ," Sepotong kalimat yang waktu itu berada di luar ekspektasi saya, dia benar datang. Sehari setelahnya, December 3rd, 2010. Sidang skripsi yang menjadi ujung tombak saya berjuang di bangku perkuliahan akhirnya terjadi juga. Perasaan yang berkumpul di dada pada waktu itu tidak dapat dideskripsikan dengan mudah. Tegang, semangat, muak, bahagia, luar biasa semuanya berkecamuk dan tidak bisa henti juga walaupun mata saya terpejam istirahat. Campur aduk bagai es campur yang menyegarkan dahaga sekaligus tajam menusuk dengan dinginnya, bertarung dalam organ perasa saya. Hari itu berlalu dengan hasil maksimal! Sekali lagi ada perasaan yang tidak mampu terwujud kecuali lewat senyuman yang terus tersungging di bibir saya. Keringat dan letih batin saya terbayar hari itu juga, saya berhak tertawa, saya berhak tersenyum bangga dan bahagia. Nikmat sekali rasanya! Nikmat yang sudah lama saya nanti. Saya bel...

Alur

Sulit sekali rasanya menerima diri saya berada dalam fase ini, fase penuh dengan keyakinan. Melalui pengalaman yang berbeda, saya mampu berpikir dan merenung bahwa selama ini saya cenderung membebasnilaikan segala sesuatu dan membuat hal-hal yang berkenaan dengan 'keyakinan' menjadi begitu relatif. Bukan berada pada fase yang menolak kebenaran yang majemuk, tapi saya sedang berada di titik  menemukan satu pegangan secara tiba-tiba, kilat. Proses berpikir ternyata tidak cukup menjawab ini semua, sama halnya dengan euphoria atau kegirangan semata dalam sebuah masa. Bukan itu. Saya sedang bercerita tentang sebuah titik di depan mata yang telah menanamkan satu rasa percaya dalam tataran detik ini. Selama ini saya menganggap bahwa tidak ada sebuah kepastian yang bisa menjamin diri saya mempertahankan nilai tersebut, tapi kali ini motivasi yang lahir dan tumbuh dalam jiwa saya begitu bergejolak. Bagus sekali untuk kehidupan saya kini, yaitu betapa motivasi ini mendorong saya terlalu...

Krisis: Puisi Oleh Toto Kuntjoro

Ini salah satu puisi karya ayah saya. Beliau mengirimkan kepada saya dan menjadi naskah favorit saya. Ditulis di Rawamangun, 1 mei 1967. *Btw, ya, tidak pernah saya mengetahui sisi satu ini dari beliau, terutama pada masa mudanya* mana itu hujan badai deras menerjang mana itu bukit cadas keras menghalang mana itu jurang sungai lebar melintang lihat ini kakiku tegar mencakar lhat ini kepalku keras membatu lihat ini pandangku tajam bersinar lihat ini hatiku bulat jangan kautunggu bujuk dan rayu jangan kaudamba elus halus melembut rasakan ini dadaku tegap hatiku tetap niatku bulat dengar ini kata hatiku dengar ini lengking batinku dengar kataku lantang tembus segala rintang aku mencintaimu, sepenuh hatiku habis perkara Rawamangun, 1 Mei 1967

Feminine Quote from Anaïs Nin

1 Oktober 2009 A Spain-Cuban-French author, to be exact, who was famous because of her journals. She was also a female erotica writer, who were rarely be found at that period of time (early 1900). When I read these words, I know that these words have been in women's mind for centuries, for eras, and for lifetime. Because these sentences are all about us, the wildest way to say yet the covert wish in every woman's prayer: "I do not want to be the leader. I refuse to be the leader. I want to live darkly and richly in my femaleness. I want a man lying over me, always over me. His will, his pleasure, his desire, his life, his work, his sexuality the touchstone, the command, my pivot. I don’t mind working, holding my ground intellectually, artistically; but as a woman, oh, God, as a woman I want to be dominated. I don’t mind being told to stand on my own feet, not to cling, be all that I am capable of doing, but I am going to be pursued, fucked, possessed by t...

umpatumpatlebihdaripangkatempat

Jakarta, 14 Juli 2009   Tipu kata tipu makna. Bukan salah saya jika makna berbeda. Bukan salah orang jika makna lebih dari dua. Tipu kata tipu makna. Jangan paksa untuk pahami mata Karena manusia hanya mengerti kata Tipu kata tipu makna. Maaf jika tidak semua bisa telepati Maaf jika saya bukan titi teliti Tipu kata tipu makna. Murka ditalang malam Murka dituang diam Tipu kata tipu makna. Jangan harap rekat dari retak Jangan harap dekat dari detak Tipu kata tipu makna. Karena pecah adalah belah Karena resah adalah celah Tipu kata tipu makna. Jangan umbar Atau buyar TAMAT KESUMAT

Bermain Puisi di Siang Berisi

Jakarta, 22 Juni 2009 Entah bagaimana jadinya puisi ini. Romantis atau apa... Ini adalah hasil melamun di sini, siang-siang yang membuat saya berpikir "Shit, kangen bikin puisi.." Dan voila! Kubikel Untuk kamu, Karena kamu adalah pencipta debar, Hingga yang kudengar hanya hingar dan bingar, Untuk kamu, Karena kamu detak ini terjaga, Hingga yang kurasa kini bukan lagi sang raga, Untuk kamu, Karena kamu adalah lembayung langit, Pertanda senja yang sengit jua sempit, Ingatkan malam akan segera memingit, Dan aku harus menyibak tirai Untuk ikhlas menanti malam Lepaskan senja tak tergapai Dan tak mampu lukis langit kelam Karena aku pelukismu, Lembayung senandung sendu, Karena kamu kanvasku, Debar rasa tak terpaku Karena aku pelukismu, Bukan malam karena ia mengadu Bukan pagi karena ia menuju Tapi, kamu Sang satu Yang merutuk Tanpa pernah mengetuk Tak indahkan pelatuk Langsung merasuk! *....semoga tidak pakai susuk