Posts

Menangkap Waktu

Pada akhir pekan yang sudah tertanda Senin dini hari ini, saya menyadari bahwa beberapa pekan belakangan, otak saya sering sekali memutar rekaman atas apa yang terjadi selama sepekan dan pekan-pekan sebelumnya. Lalu, ketika usai mengingat-ingat momentum yang telah berlalu, ada sebuah kesadaran yang bisa dibilang menyeramkan hinggap dalam pikiran saya. Betapa waktu terlalu cepat berlalu! Rasanya baru kemarin saya bepergian ke tempat itu, lalu tiba-tiba momen itu sudah terlewati selama sebulan. Saya merasakan seolah ada banyak hari yang hilang tanpa jejak serta tanpa makna. Renungan ini pun mengantarkan saya pada sebuah renungan lain, yaitu waktu kini semakin kencang berlari dan bertambah laju meninggalkan detik lalu, menit lalu, sejam lalu, hingga sehari yang lalu.  Tak cuma sekali saya mengutarakan analisis pikiran saya ini kepada beberapa teman yang ternyata merasakan hal serupa. Berkali-kali saya dan teman-teman berdiskusi dan mengucapkan rasa heran tentang hari yang makin ...

Kiamat

Perjalanan ini ternyata luar biasa sulit. Belum pernah aku alami sebuah tanjakan terjal sekaligus jurang curam secara bersamaan dalam satu detik. Semua batas antara waras dan sinting teraduk jadi satu dalam pusara yang semakin keras berputar dan memusat, semena-mena menebang segala rasio dan perasaan yang semestinya bisa dikontrol oleh batas kemampuan manusia. Tiap janji mungkin dan tak mungkin sudah menemui ajalnya dan bocor merembesi tiap permukaan, lalu menjadikan seluruh tubuhnya berlumut, mengerak, lalu lapuk. Sumpah serapas atas permukaan berbatu ini sudah tidak terasa lagi, malah membuat jarum-jarum tertajam di muka bumi ini bertumbuhan di sana sini. Sejauh pupilku memicing, aku tidak mendapati satu milimeter pun permukaan yang halus untuk dipijak. Telapak kakiku bahkan sudah tak terkejut lagi oleh kejam terik matahari yang termanifestasi di tiap butir pasir. Kasar, panas, menggores, menyayat, seluruh kulitku sudah kebal. Ada saat-saat tertentu aku menoleh ke belakang, hori...

Mengurangi Ketidakpastian

Pepatah lama bilang bahwa ‘tak kenal maka tak sayang’. Saya juga kurang tahu siapa yang mencetuskan pepatah itu hingga kini jadi pengetahuan semua orang yang hidup dan bersosialisasi. Lalu, yang saya tahu cuma kalimat di atas telah jadi pengabsahan bahwa untuk bisa memiliki ikatan emosional lebih dengan seseorang, maka kita harus mengenalnya terlebih dahulu. Secara ilmiah, saya telah mempelajari penjabaran logis dari proses berkenalan dengan individu lain karena memang saya menempuh jalur pendidikan ilmu komunikasi. Saya ditempa dengan segala macam teori yang mengupas bagaimana hubungan manusia dengan manusia lainnya terjalin, mulai dari proses awal hingga akhir. Sepanjang hidup saya (dan juga Anda), mungkin sulit untuk menghitung berapa banyak jumlah orang yang kita kenal. Ya, mungkin, dengan kehadiran Facebook, kita bisa melihat secara lebih mudah berapa banyak orang yang benar Anda dan saya kenal, atau sebaliknya. Dari sekian ratus atau ribu teman yang ada dalam jaringan sosial itu,...

Layang-layang Hitam

Image
Aku berlari sekencang mungkin, tanpa menoleh ke belakang dan tak peduli dengan napas yang makin terengah-engah cenderung hampir habis ini. Tak ada udara tersisa yang bisa aku hirup karena semua menabrak permukaan kulit wajahku, perih rasanya. Jalan di depan masih tak ada ujungnya, namun selama kulihat jalan masih beraspal, aku akan terus mengayuh kakiku melawan udara dan terus melihat ke depan. Tak tahu berapa meter atau kilometer sudah terlampaui, apa yang aku inginkan hanya segera menjauh dari langkah pertama kakiku menjejak tadi. Gelegar di langit terasa makin mendekat, angin-angin meniupkan dedaunan yang menempel di betis telanjangku dan membuat aku sadar makin lama makin berat dan habis napasku. Image source:   here Lariku memelan dan tenagaku terasa makin habis, tubuh ini sudah menurun dayanya setelah mati-matian aku mengurasnya selama beberapa lama tadi. Ada sebuah pohon tak jauh dari tempat aku berpijak terseok-seok kini, tanganku memegang perut dan dada...

Jatuh Cinta Lagi

Ada semburat cahaya yang membuat malam-malam agak berbeda. Hujan yang belakangan ini tak henti mengguyur permukaan bumi meredam terang sinarnya menjadi tipis, semburat yang tipis namun mampu mengusir kabut yang beberapa waktu ini menyelimutiku. Jalanan lengang, aspal basah, titik-titik air yang berdiam di kaca masih menempel, semuanya meninggalkan jejak mistis sang malam yang tersisa. Aku matikan mesin mobil setelah mendapatkan lahan parkir yang nyaman, tepat di depan pintu masuk kafe kecil sederhana yang sama sekali tak menarik penampakannya. “Satu corona ,” ujarku pada pelayan kafe itu, seorang pria muda yang selalu melayani pelanggan dengan ramah tamah yang berlebihan, demi dianggap asyik dan tampak akrab dengan siapapun yang melenggang di area kafe kecil remang itu. “Sendiri aja, Mbak?” tanyanya sambil menarik lembaran menu dari atas meja depanku, lalu membetulkan posisi topi baseball merahnya. Aku tersenyum pendek, “ Nunggu ,” jawabku seadanya lalu mengambil telepon sel...

Buildings & Mountains

Performed by The Republic Tigers and good to know that musicians are born to be one of the existentialist kind. I ask the same meaning as they did while they've already throw it all into one good piece and sang it, accidentally represented my quest in mind. Enjoy the lyric and video below:   We've been waiting all our lives For things we've always had But have no eyes to see. Something new is going to happen, The most natural thing But nothing we'd expect. All these buildings and mountains, Slowly they'll arise Before our eyes. How do cities understand? We drink our wine, and wonder why we're really here. Whats the point of even asking? We take the good and bad And make the best of it. All these buildings and mountains, Slowly they'll arise Before our eyes. Have you watched the cities move? Does nature fall before This age of industry? For today I'll let it go You've been good to me, Have...

Temuan

Menahun tidak akan pernah ada artinya jika sesuatu hilang dari hitungan detik dan hari yang berlalu. Makna dan momen adalah dua hal penting yang mengingatkan saya mengenai dua jenis penelitian: kuantitatif dan kualitatif. Walaupun saya juga tidak tahu mengapa otak saya terkoneksi dengan dua hal ini, tapi yang jelas saya merasa sedang berada dalam penelitian kualitatif kali ini. Tidak ada yang mampu memberikan jawaban mutlak atas temuan kemarin, hari ini, atau malam nanti, hingga saya menemukan data lainnya yang bisa mendukung atau menyanggah simpulan berikutnya. Setelah itu, barulah saya bisa menentukan apa yang sebaiknya harus diambil untuk melangkah. Bersabar pada temuan berikutnya hingga saya merasa cukup memiliki data-data yang bisa menyusun jawaban atas penelitian ini. Penelitian ini sepertinya akan memakan waktu yang panjang, namun tanpa kemampuan untuk menemukan jawabannya. Data yang telah terkumpul hingga detik ini masih stagnan, hingga saya harus berhati-hati untuk melangkah...