Posts

Monolog Lejar

Image
Biasanya tidak begini. Sekujur betis, tulang kering, dan tulang panggulku mulai nyeri. Kesemutan seperti aku belum pernah melakukan pose ini. Biji-biji keringat mulai menggelinding dengan deras, dari pori-pori kulit kepala, jatuh ke batang hidung, membuat asin tersesap selewat di bibirku, dan seluruh tubuhku basah. 20 detik lagi... 15... 10... 5... "Fyuuuhhh!" desahku berat bersamaan dengan tumpuanku yang langsung jatuh berpegangan pada tiang kayu yang melintang di sepanjang tepi kaca ruangan ini. Aku menghirup napas dengan rakus, dalam namun pendek-pendek dan terengah-engah. Lima belas menit hanya aku habiskan dengan melakukan posisi mendak.  Pose ini adalah gerakan yang mendominasi tubuh seorang penari Jawa saat berlaga; berdiri dengan posisi kedua tungkai kaki ditekuk sehingga menciptakan bentuk seperti ketupat jika dilihat dari depan dan belakang, dan kedua telapak kaki menghadap berlawanan ke sisi luar. Sepanjang tarian, seorang penari Jawa pasti melakukan posis...

Ulasan Musik: London Grammar

Image
Awal mula pertemuan saya dengan grup musik asal Inggris ini memang agak abstrak. Rasanya saya sudah pernah melihat nama band London Grammar di salah satu situs berita musik indie luar. Sepertinya itu beberapa bulan lalu. Sore ini, ketika saya baru duduk manis di depan laptop  dan memasuki laman jejaring sosial musik ternama berlogo warna jeruk itu, single baru trio ini muncul di halaman utama. Baru mendengarkan bagian intro-nya saja, saya sudah yakin akan menyukainya. Benar saja, lagu Strong milik London Grammar pun tidak henti saya putar. Ki-Ka: Dot Major, Hannah Reid, Dan Rothman Grup musik beranggotakan Hannah Reid (vokalis), Dan Rothman (gitaris), dan Dot Major (instrumentalis) mencuri perhatian para  blogger musik   saat single "Hey Now" dirilis pada laman SoundCloud band tersebut, akhir 2012 lalu. Media musik indie berbasis di Chicago, Pitchfork  mengatakan single tersebut indah ( exquisite ) dan disusul juga dengan ulasan yang tetap menimbulkan kesan ...

Efek Sastra

Image
Seminggu ini bisa dibilang saya habiskan dengan membaca. Setelah sekian lama merasa kehilangan niat untuk membaca novel, akhirnya kini rasa ingin itu kembali lagi. Dalam dua minggu terakhir, saya sudah menuntaskan satu novel dan sekarang beranjak ke novel kedua yang baru saya beli semalam. Sebenarnya, otak saya masih carut-marut akibat efek emosional pascamembaca novel pertama. Hanya saja saya haus, haus untuk mengalami realitas baru lainnya. Rasa ini sontak bikin saya bertanya pada diri sendiri: Realitas apa? Mengapa saya haus untuk kembali larut dalam petualangan emosional dari tokoh yang bahkan tidak nyata? Saya pun coba menganalisis pengalaman membaca fiksi yang selama ini saya alami; pengalaman sebelum dan setelah membaca sebuah karya fiksi. Mulai dari buku cerita anak-anak, novel petualangan remaja, novel-novel dewasa terjemahan milik mama yang dulu sering saya pinjam sebagai pengantar tidur, hingga novel-novel koleksi pribadi yang terkumpul hingga kini. Benang merah da...

Merantau Bagian Tiga

Image
Image source: here Di salah satu akun jejaring sosial pribadi saya tertulis “sesuatu yang bergerak dan tidak menetap” sebagai gambaran singkat profil saya. Ini bermula di satu waktu saat saya menyadari bahwa setiap tahun saya selalu berpindah tempat tinggal, baik kos-kosan atau kota. Entah mengapa, pada waktu itu juga saya memiliki firasat kalau sepertinya dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan pola hidup seperti ini masih akan terus saya jalani. Pede berlebihan memang, tapi nyatanya, toh, saya belum bisa membayangkan kehidupan menetap dalam jangka waktu lama di sebuah kota. Dan ternyata itu berlangsung hingga kini. Bulan ini, tepatnya Juli 2013, bisa dibilang saya sudah sebulan menetap di Makassar. Keputusan ini sebenarnya terbilang instan. Fase pernikahan adalah yang membawa saya ke sini, walau sebetulnya, saya dan suami tadinya berencana untuk menetap di Jakarta setelah menikah. Rencana tinggal rencana dan inilah yang menjadi kesepatakan bersama serta keputusan terbai...

Soal Keyakinan

Luar biasa (gak) menggila. Jadi menurut perhitungan mundur saya, tanggal 14 April ini sudah memasuki H-47. Herannya, semakin dekat hari penting itu, saya tidak merasakan apalah itu yang biasa disebut "wedding jitters" dan segala kerepotan juga drama yang bernaung di dalamnya. Selain itu, saya juga tidak mengalami kerepotan khas orang-orang pada umumnya yang akan melaksanakan hajatan besar. Sejauh ini paling hanya sebatas akhir pekan yang tersita untuk mengurusi hal-hal kecil, seperti: belanja seserahan, fitting gaun pengantin, menemani si tunangan jahit jas dan mencari bridal shop untuk sewa vest dan dasi yang tidak ada di mana-mana itu. Urusan lain? Nyonya dan tuan besar sudah mengurus segala-galanya. Oh well, ini juga karena ada drama di awal yang bikin saya (akhirnya) memberikan mereka keleluasaan untuk mengurus hari penting saya nanti. Intinya, di hari yang makin dekat ini, saya tidak merasa makin pusing kepala, malah antusias. Tapi yang lebih membuat saya heran lagi, ...

O Word

“Lack of originality, everywhere, all over the world, from time immemorial, has always been considered the foremost quality and the recommendation of the active, efficient and practical man.”  ―  Fyodor Dostoyevsky ,  The Idiot Lavande Residence, Jakarta

identitas

Image
Hold still like an old tree Betul bahwa tidak ada yang sama atau seragam ketika berbicara soal karakter seseorang. Tapi satu yang saya percaya, bahwa apa yang disebut dengan identitas bukanlah suatu hal yang mudah berganti atau sementara, beda dengan nilai yang melekat dalam diri kita. Nilai tidak pernah saklek atau menemui titik akhir, karena segala pengalaman yang menempa kita dalam kehidupan jelas akan selalu bikin nilai-nilai yang dianut seseorang terus berubah, namun masih dalam koridor untuk memperkuat identitasnya. Mengapa saya bilang identitas sebagai sesuatu yang tidak sementara? Lihat saja, apakah nama yang tercantum dalam KTP kita berubah? Itu contoh kecil yang dangkal. Tapi dari contoh kecil itu saya percaya bahwa tiap pribadi punya identitas yang selalu melekat pada diri masing-masing, dalam bentuk apapun. Walaupun identitas saya kini bukan lagi mahasiswa, toh sampai kini saya tetap membawa embel-embel sarjana ilmu komunikasi, dan akan terus begitu s...