Posts

Wisdom #1

"People's pursuit of material things in life, the concept that only physical things are real, has really impacted and damaged traditional culture and martial arts." -Longfei Yang, Master of 7 Star Praying Mantis

Balada Komitmen

Cerpen Dua pasang mata saling menatap. Di tengah keriuhan malam yang riang hawanya, kita kembali bertemu setelah sekian lama hidup di jalan dan tempat yang berbeda. Tidak ada yang memaksa kita untuk berpisah. Ini hanya salah satu bagian dari proses alami kehidupan yang dulu sering kita kutuk bersama: “perihal menjadi dewasa”. Tatapan mata kita kerap diselingi oleh picingan mengamati, mendengarkan, atau sorot penuh asumsi. Kita tak bisa menghindari berapa kali saling menebak, merasa masih saling mengetahui kehidupan satu dan yang lain. Padahal tidak. Nyatanya, banyak persoalan hidup yang sudah terlewati dari pengetahuan masing-masing. Tatapan mata kita juga tak jarang diramaikan oleh kerut bahagia, kerut tawa penuh rasa geli di saat bertukar bermacam kisah. “Aku masih sulit percaya,” ujarmu sambil menggelengkan kepala tanda takjub. “Sulit percaya bagian mana?” imbuhku. Kamu menghela napas lalu terkekeh, “Ini... Kita... Sekarang,” katamu. Aku spontan terkekeh pula, “Hidup,” k...

Avowal

I resign from the altered world here; pull myself back onto the ground where I can stand. Through the eyes I witness what lies before us. All.  I stop to wander among the mannered; drown myself apart from the clown. Inside my mind I find a peace, acknowledge that somewhere deep down, there is a crave to showcase ego. The ego that is of no use. I divert to reality; I convert the crave; I revert to the worth. That is world. *we can not simplify the universe into some codes*  [Makassar, 12 & 17 Sept 2014]

[DRAFT]

"Seperti apa rasanya?" tanya lelaki di depanku, menatap lekat batang hidungku yang dingin. Melekatkan razia tatapannya ke seluruh penjuru wajahku yang kaku. Tidak peduli dengan tatapan yang menelanjangiku, aku teguk dalam-dalam rasa yang kupaksa larut bersama air putih dari gelas hijau ini. Aku sibuk menata ingatanku, tidak hanya lima jam barusan, tapi lompat mundur pada masa-masa sebelumnya, di mana rasa yang eksis ini tidak pernah unjuk gigi. Sejenak, aku menatapnya, lelaki di depanku, yang wajahnya melongo penasaran menanti jawaban. Tidak aku hiraukan, aku memilih larut ke dalam eksistensi kenangan dan masa depanku, kiniku. Kamu. Siapa kamu, ya? Omong-omong, aku pun tidak begitu jelas mengenalmu, hanya melalui dunia maya kita bertegur sapa, berbincang ngalor-ngidul tak tentu arah, lama-lama liar membabi buta, berujung pada pola membebaskan segala bebat moral dan nilai yang sudah difatwakan, oleh pengetahuan. Ya, karena dunia tidak pernah memfatwakan apapun kecuali hukum ...

Selamat Istirahat, Tana

Image
"Kasihan, dia sudah tidak bisa melompat ke atas kursi itu lagi," kisah Mama, tahun lalu. Waktu itu saya sedang pulang ke rumah di Balikpapan, yang juga telah menjadi rumah Tana, anjing piaraan kami, selama sekitar 13 tahun. Mendengar ujaran Mama, saat itu saya baru sadar bahwa anjing ini sudah lanjut usia. Ia telah menghuni rumah kami semenjak saya masih kelas 1 SMP, hingga saya lulus sekolah, pergi melanjutkan kuliah ke Bandung, lulus kuliah, bekerja, dan menikah. Ia juga telah mengalami berbagai fase yang terjadi di rumah itu. Mulai dari saat empat tuannya masih tinggal bersama di sana (kakak perempuan saya sudah merantau ke Bandung saat itu), lalu satu per satu dari kami meninggalkan rumah itu; kakak laki-laki saya kuliah ke Jogja, saya ke Bandung, ayah pindah ke Jogja setelah pensiun, mama menyusul ayah ke Jogja setelah pensiun lima tahun setelahnya, hingga sampai kakak laki-laki saya kembali bekerja di Balikpapan dan menjadi majikan satu-satunya bagi Tana. Bal...

Mencatat

Ada yang pernah bilang (kurang lebih) seperti ini, “Ide itu bagaikan sayap. Jadi harus segera ditangkap ketika menghampirimu.” Saya lupa di mana dan kapan saya membaca kalimat tersebut, serta siapa pencetusnya (kalau ada yang tahu, mungkin boleh langsung memberitahu saya). Yang jelas, saya merasa kalimat ini sangat sesuai dengan kondisi yang belakangan ini terjadi. Ide tidak pernah bisa ditebak atau dipancing kemunculannya, malah terlalu sering lepas dari ingatan. Saya ingat beberapa kali saat hendak tidur, kepala ini dipenuhi oleh ide-ide soal karakter, alur, konflik, hingga akhir sebuah cerita. Sayangnya, saya terlalu menyombongkan diri dengan berpikir, “Ah, besok pasti ingat. Langsung tulis saja,” begitu. Nyatanya? Keesokan harinya, hanya beberapa potongan dari keseluruhan ide sebelumnya yang masih tinggal dalam pikiran saya. Kejadian di atas yang berulang-ulang saya alami bikin otak ini tidak tenang. Ketika saya berkutat di depan laptop untuk mencoba menuangkan ide ke dal...

Nihil

Cerita Pendek "Kenapa kamu tidak bilang saja bahwa aku salah?" tanyamu. "... Apa itu yang kamu inginkan?" aku balik bertanya, malah jadi bingung. Kamu terdiam, lalu menghela napas. Napas yang berat bunyinya. "Nggg... Rasanya bakal lebih mudah untuk kudengar," katamu, tersirat pula rasa bingung di sana. "Aku terbiasa dinilai," ujarmu. Kedua mata kecil itu meredup, pelipismu menegang dan air mukamu penuh riak keresahan. "Bagiku, akan lebih mudah untuk dinilai salah, benar, kurang, terlalu, atau lainnya, agar aku bisa menentukan sikap untuk mengatasi hal itu. Sedangkan kamu, kamu tidak pernah menilaiku. Kamu selalu mementingkan apa yang aku rasakan dan inginkan. Belum pernah ada yang begitu." Aku latah menghela napas. Antara menyesal dan menjadi lega, keduanya campur aduk. "Aku cuma ingin kamu sadar kalau tidak ada satu orang pun di dunia ini yang sanggup mengerti perasaan orang lain sepenuhnya. Masing-masing manusi...