Posts

Jiwa

Hanya dalam tiga detik, sepotong jiwa menyeruak keluar menerobos lorong gelap yang tak kenal dusta; mata. Hanya butuh tiga detik untuk membebaskan jiwa itu, menjelajahi pelosok-pelosok yang belum pernah ia temui dan sungguh haus untuk ia telusuri di ribuan detik setelahnya. Jiwa menghinggapi pagi, siang, dan malam sekenanya. Ia tak berencana, ia hanya berkelana. Ia tak banyak menimbang, ia hanya bertualang. Jiwa tak sadar, bahwa ia sedang menjelanak ke sepotong jiwa lainnya dan tanpa ia tahu, perlahan ia rasuki bulat-bulat. *menjelanak: menyelinap, menyusup Argo Parahyangan malam, menuju Jakarta, 27 Maret 2017

Wonderfully crafted: Quotes from Lang Leav

“It happens like this.   "One day you meet someone and for some inexplicable reason, you feel more connected to this stranger than anyone else--closer to them than your closest family. Perhaps this person carries within them an angel--one sent to you for some higher purpose; to teach you an important lesson or to keep you safe during a perilous time. What you must do is trust in them--even if they come hand in hand with pain or suffering--the reason for their presence will become clear in due time." Though here is a word of warning--you may grow to love this person but remember they are not yours to keep. Their purpose isn't to save you but to show you how to save yourself. And once this is fulfilled; the halo lifts and the angel leaves their body as the person exits your life. They will be a stranger to you once more. Lang Leav, Love & Misadventure

Nyali

Image
Pic: Tumblr Kamini Kamu tidak perlu bilang apa-apa. Matamu sudah bicara banyak, meski tanpa suara. Mau tahu apa katanya? Tatapannya yang lantang tak berkedip bilang kamu sadar kalau aku ada. Sorotnya yang seketika menyala bilang kamu menanti aku hadir. Pandangannya yang sigap berlari bilang kamu siaga, takut kalau-kalau basah tertangkap olehku. Tak apa. Akan kutunggu hingga dirimu sepenuhnya bernyali, lebih dari matamu. Kama Siapa dia? Aku tahu dia hanyalah seorang asing. Tapi, ada apa dengannya? Pertama kulihat ia, dibuatnya aku kelu. Mataku terpaku. Pikiranku beku. Padahal aku percaya, kalau tatapan pertama itu tak lebih dari pengalih perhatian, bujukan sesaat, namun belum tentu melekat. Dasar manusia. Kadang tak berdaya saat hal di luar logika bersuar. Tapi akan aku tunggu, sampai pikatnya menghantam akal dan buatku tak kuasa lagi. Sampai tersisa nyali yang sanggup bicara. Jakarta, 16 Februari 2017 *bersambung ke "Penasaran"

Kasmaran

Tatapan pria, saat ia tengah jatuh cinta, adalah tatapan paling magnetis yang pernah kuselami. Wajah pria, saat ia tengah tengah jatuh cinta, adalah wajah tertampan yang pernah kulihat. Seorang pria, saat ia tengah jatuh cinta, adalah seseorang paling menggairahkan yang pernah kutemui. Itulah mengapa seorang pria, saat ia tengah kasmaran padaku, adalah sosok yang selalu kurindukan dan kuelukan. Aku ingin menikmati tiap detik saat hasrat, energi, dan keelokannya memuncak—terpusat untukku, berpusar di aku.  Bagiku, tidak ada momen lain yang bisa mengalahkan indahnya perasaan dipuja seorang pria. Walau ini memang hanya sementara.  Geloranya akan redam, gemuruhnya akan reda, pun mabuknya akan padam begitu ia rampung menjalin potongan-potongan  puzzle tentangku, juga begitu terkuak bahwa cintanya berbalas. Perlahan, semua beralih tenang serta pasti. Jangkar telah mengakar dan ombak berganti riak. Maka aku akan lekas pergi, kembali mencari masa yang hilang—m...

Ranum (Fragmen #4)

Ranum adalah perempuan yang sanggup menyihirmu dalam waktu sekejap. Dia memiliki pesona yang tak kunjung habis hingga mampu membuat matamu terpaku padanya sepanjang hari. Dia memiliki karisma sekuat magnet hingga tidak dapat bertemu dengannya barang sehari merupakan ide yang mampu menyiksamu sepanjang malam. Dia memiliki paras seelok imajinasimu tentang kecantikan, yang membuat decakanmu tak pernah berakhir, dan hasratmu kian terpelihara. Ranum adalah perempuan yang sanggup menghancurkan pertahanan dirimu sebagai seorang laki-laki. Matanya teduh, menghanyutkan, dan itu justru membuatmu gila karena tak mungkin menghindarinya saat sedang berbincang. Caranya bertutur sungguh teratur namun mengalir tanpa dibuat-buat, dan itu justru membuat lidahmu kelu saat harus menanggapinya. Ranum adalah perempuan yang sanggup membuat malam-malammu tak tenang. Kesan mengenainya bisa berdiam di benakmu sepanjang hari, setiap detik, di kala kau hendak tidur, di waktu pikiranmu tengah beralih dari...

Ranum (Fragmen #3)

Image
"Kerinduan yang lambat laun menggerogotiku sebagai perempuan sempurna." (Sumber: weheartit.com ) Ada banyak tantangan menjalani hidup sebagai perempuan. Baru kusadari kini, kedua orang tuaku mendidik anak-anak perempuannya berlandaskan kalimat itu sebagai skemanya. Bila ketiga anak gadisnya dewasa kelak, mereka harus sadar bahwa ada peran-peran yang harus dipenuhi dan agar kehidupannya sentosa, maka mereka harus mampu mengisi peran-peran tersebut. Mungkin begitu ayah dan ibuku memadukan visinya selama membesarkan kami—aku dan kedua adikku.

Sakit Hati

Image
"Hatiku serasa lepas dari rangka yang menopangnya." (Sumber: Lunaoki.tumblr.com ) Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar, apalagi bila dihabiskan dengan setia terhadap hal yang tidak ada, atau tepatnya, tidak pernah bisa aku miliki. Kali ini, setia bukanlah sesuatu yang bisa dimaknai positif karena memang tidak membuahkan hasil yang konstruktif untukku. Menakjubkan. Inspiratif. Luar biasa. Salut! Ada yang bilang begitu. Tapi dalam hati, aku tersenyum miris dan merasa ironis. Bagaimana caranya aku bisa membanggakan kesetiaan dalam menjaga perasaanku untuk seseorang yang pada akhirnya tidak menjadi milikku? Dari sisi mana perjuangan seperti ini patut diberikan pujian? Lebih masuk akal mereka yang mengataiku bodoh tanpa belas kasihan. Sudah terlalu lelah mereka mengumbar empati. “Kamu memetik apa yang kamu tanam.” “Sakit hatimu ini muncul karena pilihanmu sendiri.” “Bagaimana kamu bisa memilikinya kalau ia tahu pun tidak?” Sejuta cacian serupa tak he...