Posts

Takar yang Tak Tertakar

Aku setuju jika ada yang pernah berujar bahwa cinta tak memiliki takaran pasti. Setiap orang akan berkata beda jika ditanya tentang cinta, atau sama sekali tidak bisa menjawab. Cinta membuat semua orang menjadi subyektif dan segala paparan mengenainya adalah sah, tidak ada yang haram.

Senja

Image
Perlahan, sinar merah yang daritadi kami tunggu muncul juga. Tampak gemulai, ia menyongsong awan sore lalu memeluknya hingga awan bercampur dengan kelembutan warnanya, merah jambu yang sungguh feminin. Seolah sedang menggelayut padanya, awan perlahan meluber, tak lagi bergumpal-gumpal seperti ia kala siang, kini manjanya terpenuhi oleh sang merah jambu, mungkin ibunya yang mengingatkan sebentar lagi ia harus tidur karena mentari tak lagi menyinarinya.

Tiap Detik

Segaris pantai di sana kembali terbayang. Segaris bibirmu tergambar dalam bayangan semu akan harapan yang tak pernah nyata. Segaris angan tak pasti kembali meresahkan akan kenyataan pada masa sekarang, dan membunuh tiga garis yang telah aku rekam. Sekian jarak yang memisahkan ternyata tak kunjung melenyapkan rasa rindu, walau mungkin terlalu sering takut mewarnai merah percikan api. Semakin lama, semakin membara.

Tangisan di Sabtu Pagi

Image
Sayup-sayup aku terbangun, bukan karena jeritan alarm atau ketukan pintu. Bukan pula karena berisik dering telepon dari entah siapa. Aku dibangunkan oleh tangisan itu.

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #4

The  Suffocation Jendela itu persegi empat, memanjang di sisi kamarnya dan menjadi sisi terfavoritnya menghabiskan waktu. Ia leluasa menatap dunia luar melalui jendela itu, walau tak banyak yang terjadi, seperti kendaraan yang kadang melintas, dan rumah-rumah di seberang pun tidak berubah ujud saat hari berganti, namun ia puas karena mampu melihat langit dan ruang udara di luar. Baginya, rutinitas tak banyak tenaga itu mampu membuat ruang kamarnya terlihat lebih luas dan lega. Siang itu cuaca terjadi sebagaimana musim berbicara, hujan, dan membuat ruang udara di luar terlihat kabur oleh rintikan hujan dan menjadikan langit abu. Nafas Sekar memelan, pandangannya mulai tak fokus. Angin dingin melipir menyusupi tiap celah ventilasi dan membuatnya terninabobokan perlahan. Matanya meredup, sisa kesadaran yang ia miliki justru membuainya semakin menghayati kantuk yang ternikmat di tengah siang seperti itu. Entah berapa lama ia mampu menahan katup matanya untuk terus terbuka, pe...

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #3

The First Sun Siang ini udara begitu bersahabat, walaupun ramalan cuaca di bulan-bulan belakangan selalu menunjukkan cuaca yang buruk, namun tampaknya alam ingin menghibur seluruh umat manusia hanya untuk hari ini. Lihat saja, langit biru cerah dengan semburat awan yang membentuk bantalan putih bak kapas yang tampak empuk untuk ditiduri. Matahari tidak kalah riang dengan senyumannya yang telah lama tidak nampak tersungging begitu jujur di atas sana. Saat ini, lihat saja, ia memamerkan sinar-sinar keemasan yang menyilaukan mata dan menghadirkan semburat garis cahaya hingga ujung telapak kaki Sekar. Hari ini tampak begitu selaras dengan apa yang Sekar rasakan. Entah mengapa, Sekar merasa begitu bersemangat untuk bertualang di seputar kota untuk hari ini. Sejak pagi, ia mengamati keadaan kota, ia merasakan gejolak untuk bercinta dengan hari yang cerah ini. Tidak ada awan mendung, tidak ada dedaunan coklat kusam yang berterbangan di sekitarnya, dan yang terpenting: tidak ada wajah ...

the wind beyond her fidgetiness: a monologue of Sekar #2

The Anxiety Tidak seharusnya aku banyak bertanya. Aku terlalu cemas dan resah akan kehadiran dia, sebagaimana aku resah kala angin enggan menghampiri untuk satu hari. Dunia ini sudah semakin tidak mesra, manusia semakin tidak tenggang rasa dan tidak akan segan untuk menyikut hati nurani siapa saja yang menghalangi mereka mendapatkan kebahagiaan. Aku termenung, tidak banyak melakukan gerak hirauan atas kerlipan sinar mentari yang tersisip di antara dedaunan pohon itu. Aku memandang sekeliling, hampa sekali. Jika saja aku diberikan ijin, aku ingin hidup di beberapa abad yang telah lewat dan berharap masih bisa menemukan harmonisasi. Harmonisasi yang adalah klimaks kedamaian kehidupan, yang tidak mungkin dapat diraih oleh dunia kini. Aku ingin menikmati setiap keindahan yang terjadi di dunia ini lalu memengaruhi siapa saja menjaga harmoni itu agar dunia tidak berubah menjadi seperti sekarang. Aku semakin terpuruk dengan harus terus berkompromi atas perasaanku. Tidak ad...