Posts

identitas

Image
Hold still like an old tree Betul bahwa tidak ada yang sama atau seragam ketika berbicara soal karakter seseorang. Tapi satu yang saya percaya, bahwa apa yang disebut dengan identitas bukanlah suatu hal yang mudah berganti atau sementara, beda dengan nilai yang melekat dalam diri kita. Nilai tidak pernah saklek atau menemui titik akhir, karena segala pengalaman yang menempa kita dalam kehidupan jelas akan selalu bikin nilai-nilai yang dianut seseorang terus berubah, namun masih dalam koridor untuk memperkuat identitasnya. Mengapa saya bilang identitas sebagai sesuatu yang tidak sementara? Lihat saja, apakah nama yang tercantum dalam KTP kita berubah? Itu contoh kecil yang dangkal. Tapi dari contoh kecil itu saya percaya bahwa tiap pribadi punya identitas yang selalu melekat pada diri masing-masing, dalam bentuk apapun. Walaupun identitas saya kini bukan lagi mahasiswa, toh sampai kini saya tetap membawa embel-embel sarjana ilmu komunikasi, dan akan terus begitu s...

Dia Selalu Brilian

Image
People change... Ungkapan ini memang sudah jadi pemakluman umum bagi seluruh umat manusia di dunia ini. Entah bagaimanapun rupanya, yang jelas semua orang berubah. Begitupun dia. Tapi, dari enam tahun saya menjalin hubungan pertemanan yang sangat dekat dengan perempuan satu ini, ada satu hal yang saya tahu: perubahan dia tidak pernah melenceng dari "jati diri"nya. Pertama kali kami kenal itu terjadi di semester tiga perkuliahan. Waktu itu saya tahu dia beserta "gerombolan"nya karena mereka berasal dari sekolah yang sama dengan seseorang dari masa lalu saya. Akhirnya kami jadi dekat karena satu kelas dan ada kecocokan antara kami berdua yang tidak bisa dideskripsikan secara lugas. Memang pertemanan itu berdasarkan chemistry , bukan? Kami jadi semakin dekat dari hari ke hari. Saya mengenalnya sebagai gadis yang memiliki perawakan lembut, tapi ternyata tidak bisa dikekang. Tanpa butuh banyak waktu, saya juga bisa tahu kalau dia itu tipe perempuan yang menonjol da...

Desember 2012 (Part 2)

Image
“Gw mau tunangan,” celetukmu tepat di hadapan kami. Mereka melongo, terkejut sambil memegangi gelas bir yang masih terisi setengah. “Sama siapa?!” ujar salah satu dari kami. Satu orang lagi hanya diam tapi tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Aku? Diam dan berdebar karena tak menyangka momen ini sedang berlangsung: pengakuan dari mulutmu. Kamu tak kuasa menahan tawa tapi kamu juga tak kuasa menahan hasrat untuk membeberkan semua yang selama ini telah kita pendam. Matamu mendelik ke arah perempuan yang duduk di sebelah kananmu. Aku. Ya, aku. Lalu mereka, dua yang lain, melotot sambil tergagap karena tak menyangka itu semua. Kebisingan yang membalut malam riang di satu bar langganan kita itu tak mampu mengalahkan reaksi terkejut dari dua sahabatku itu. “Kapan?” akhirnya salah satu dari mereka berhasil merespons dengan antusiasme yang masih nampak. “Desember 2012.” *** Malam mengejutkan itu terjadi tepat dua tahun yang lalu, 2010. Terasa sudah begi...

Desember 2012 (Part 1)

Image
Ada beragam alasan bagi kebanyakan orang untuk merasakan hal yang berbeda tiap Desember datang. Sebagian besar bisa jadi antusias menyambutnya karena tahu liburan akhir tahun akan tiba. Sebagian lainnya adalah mereka yang merayakan hari Natal setiap tanggal 25. Keriaan hari raya umat Kristiani inipun jadi keriaan banyak orang karena berdekatan dengan pergantian tahun. Ya, semua itu terjadi hanya di bulan Desember. Tapi bagi saya, kebahagiaan di bulan Desember tahun ini menjadi berlipat ganda. Saya dan pacar terlahir di bulan yang sama, terpaut 1 tahun 9 hari. Dia dilahirkan pada 4 Desember 1986 dan saya 13 Desember 1987. Ini jelas bukan kesengajaan yang membuat kami bisa jatuh hati satu sama lain. Tapi dua hari penuh rasa syukur yang jatuh berdekatan ini tentu bikin saya dan dia memiliki antusiasme yang beririsan tiap Desember tiba. Tahun ini adalah kali ketiga pacar saya merayakan hari jadinya bersama dengan saya. Pertama, pada Desember 2010, ketika hubungan kami i...

Tentang Pagi

Sedikit ingin bercerita mengenai apa yang tiba-tiba melintas di pikiran saya malam ini. Sebuah curhatan atau saya lebih suka menyebutnya sebagai refleksi tentang bukan malam yang muncul di malam hari. Ya, pusing, tapi sebenarnya kalimat sebelum ini hanya sebuah basa-basi yang juga muncul di malam hari walaupun bukan tentang malam. Bukan sebuah kesengajaan ketika tiba-tiba kicau burung mengejutkan daun hingga gendang telinga saya tanpa suara itu hadir, ketika tiba-tiba emas cahaya mentari membuat saya silau padahal sekarang sudah malam dan mustahil ada matahari beserta cahaya emasnya yang membawa biru langit terlihat begitu kontras dengan lembutnya awan putih bak kapas menggantung tinggi, ada di waktu seperti ini. Suarapun terdengar berbeda, ketika malam yang hening digantikan oleh seru-seruan manusia yang baru membuka hari terdengar di telinga saya. Semuanya adalah tentang pagi.

Karangan Angan

Kamu merapatkan jari-jarimu dan membentuk cekungan dengan telapak tanganmu lalu mendaratkannya di pipiku. Tanpa kata-kata, kamu menatapku dan mata itu hanya bergerak saat kamu mengedipkannya. Berselang dua detik kemudian kamu mengusapkan ibu jarimu ke kulit pipiku sambil terus mengamati air wajahku yang tak berubah: diam. Kedua bola mata itu layu, sekaligus tegas dan menyiratkan pandangan yang seolah berkata, "Hari ini sungguh melelahkan, sebaiknya kita tidur saja." Tapi kamu tidak beranjak, melainkan tetap memandangiku lekat sembari mengusap ibu jarimu itu berulang-ulang ke arah yang berlawanan. Dua menit berselang, kamu tak juga berhenti dan aku makin tak mengerti harus apa. Apa? Aku tidak ingin kamu berhenti menatapku saat itu dan aku juga tidak ingin waktu berlalu hingga jari-jarimu terpaksa lepas landas dari kulit pipiku. Dua puluh menit waktu telah berputar, namun pergerakan kita di seluruh sudut ruangan ini masih terselimuti oleh diam. Krrrrrr.... Keran di wastafe...

Perkara Bahagia

Beberapa minggu ini berlalu dengan sebukit renungan yang makin mencambuk. Tidak cuma terjadi pada saya, tapi juga pada beberapa teman dan beda kasus pula. Ada yang mempersoalkan cinta terhadap pasangan, cinta terhadap pekerjaan, juga cinta terhadap diri sendiri. Hingga terlintas rangkuman dari macam-macam renungan tersebut: semua bicara soal kebahagiaan.  Kita pasti menemukan aneka perkara yang menyematkan dirinya di pundak manusia di tiap waktu. Alhasil, semua itu akan memancing keluh-kesah dan keresahan yang berujung pada pertanyaan, "Bagaimana caranya supaya saya lebih bahagia dari sekarang?" Saya yakin jawaban dari pertanyaan inilah yang dicari. Ketika satu orang mengeluhkan persoalan hubungannya dengan sang kekasih yang jarang bikin damai, orang lain juga sedang mencaci-maki atasannya di kantor yang dirasa tidak punya rasa kemanusiaan. Di kubikel lain, ada pula yang sedang frustasi karena tidak tahu darimana ia bisa mendapatkan uang tambahan untuk melunasi utang. La...