Posts

Dialog Tua yang Tak Usang

Dimuat di Femina, Edisi F35/September/2013 Aku menatap sofa merah tua di sudut ruangan putih ini. Aku masih ingat betapa ia menyayangi sofa itu, dan betapa ia bisa tenang sambil terpejam melemaskan seluruh badannya di atas bantalan lembut itu. Bahkan, aku masih bisa menggambar dengan jelas geraian rambut cokelat tuanya yang ia lampirkan dengan lemah lembut di bagian kepala sofa itu. Setiap pulang sekolah, atau setiap aku baru pulang dari kegiatan ekstrakulikuler, aku sering melihat ia berdiam diri di sana dan wajahnya terlihat tenteram. Jika ia sudah merasa cukup, ia akan bangkit dari sofa lalu menyapa dan memeluk tubuhku yang bau matahari. Namun, bau matahari yang panas itu mampu diredam oleh kehangatan tubuhnya. Aku sering menduduki sofa itu kala merindukannya, tiap ia pergi ke luar kota untuk urusan kerjaan, misalnya. Harum tubuh dan wangi parfumnya sudah melekat tak mau lepas dari permukaan beludru sofa merah tua yang sudah lekat dengan aroma tubuhnya, dan tak akan pernah bisa...

[Ulasan Tempat] Klinik Kopi, Secangkir Terapi

Image
Setiap kata "ngopi" muncul, maka yang tersirat di benak kita adalah duduk bersama teman di sebuah kedai kopi sembari berbincang. Tapi kali ini, pengalaman saya menyesap kopi berbeda. Bagaikan pasien, saya harus membuat janji dan mengantre untuk bisa menikmati secangkir kopi di Klinik Kopi. Berawal dari keinginan kakak saya untuk membeli biji kopi khas Jawa, kami berdua lalu mencari tahu soal tempat yang menjual biji kopi di Yogyakarta. Dari beberapa pilihan informasi yang kami peroleh melalui internet dan rekomendasi teman saya, Kartika Pratiwi, maka Klinik Kopi langsung menjadi destinasi utama kami. Hal ini tak lain karena tempat tersebut memiliki informasi terlengkap seputar biji kopi di antara pilihan tempat lain yang kami dapatkan. Selain itu, jujur saja, judul "klinik" berhasil memancing rasa ingin tahu kami lebih dalam soal konsep tempat ini. Melalui informasi yang tertera di laman resminya ( www.sindorogreenbean.com dan www.klinikkopi.wordpress.com ), k...

Kemelut Keraton

Prihatin. Kata ini sungguh tepat untuk menggambarkan pandangan saya terhadap apa yang terjadi di tubuh Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Konflik internal keraton sudah menjadi konsumsi publik dalam hitungan tahun, dan malah makin runcing belakangan ini. Saya pikir rekonsiliasi yang sudah terjadi antara "raja kembar" beberapa waktu silam merupakan penyelesaian dari pertarungan kuasa di dalamnya. Tapi nyatanya tidak. Runyam.  Tidak bisa dipungkiri kalau eksistensi Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak bisa disejajarkan dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang masih berlaku sebagai pemerintah DIY. Namun, satu hal yang tidak bisa dihindari oleh keraton pewaris takhta Mataram ini adalah: perannya sebagai pusat pengetahuan dan keberlangsungan budaya Jawa. Sebagai cagar budaya, warisan kebudayaan, dan satu wujud pengetahuan yang harus dilestarikan. Ini yang menjadi keprihatinan nomor satu saya. Lupakan peran politik keraton yang sudah lama tidak berlaku ...

Generasi Transisi

Kemarin, saya pergi ke Solo bersama kedua orang tua saya. Kami berangkat dari Yogya sekitar pukul 11.00 dan saya, seperti biasa, berlaku sebagai sopir. Ketika sudah memasuki Kabupaten Boyolali, saya melihat satu rumah warga yang berdiri di pinggir jalan dan terapit sawah di sekelilingnya, tidak ada rumah lain. Ayah lalu berkomentar soal alasan rumah-rumah di pinggir jalan itu miring, alias tidak menyiku 90 derajat dari jalanan (wajarnya, wajah rumah tampak rata jika kita lihat dari depan jalan), hingga ayah bernostalgia soal lahan sawah yang makin terkikis. "Bayangin, suatu hari nanti sawah-sawah di sini akan lenyap oleh bangunan," katanya. "Ayah dulu masih merasakan kehidupan desa, tanpa listrik. Masih ingat betul bagaimana alam itu (dalam benak ayah)," katanya lagi. "Kasihan, ya, generasi kamu tidak mengenal alam," ujar ayah yang langsung saya potong, "Aku masih, dong, Yah. Generasi setelah aku baru bisa jadi tidak mengenal alam lagi," korek...

[Ulasan Hotel] Pasti Ingin Kembali

Image
Ada jejak memori tentang kenyamanan, kepuasan, dan keengganan meninggalkan Kota Kembang selama lima malam saya menginap di akomodasi unik ini. Bagi saya, Cottonwood Bed & Breakfast memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk menjadi penghuni sementara Bandung, lebih dari sebatas turis. Perjalanan saya pada akhir September 2013 ke Bandung sebenarnya tidak sepenuhnya memiliki tujuan utama untuk liburan. Ada beberapa urusan yang mengharuskan saya pergi bersama suami selama enam hari ke sana. Namun, ini adalah pertama kali saya bertandang ke kota tersebut tanpa penginapan gratis, alias rumah atau kos-kosan teman. Saya teringat informasi dari seorang teman yang menyebutkan fasilitas akomodasi baru nan unik di Bandung, yaitu Cottonwood Bed & Breakfast. Nah, tentu saja ini adalah momen yang tepat untuk langsung mencoba menginap di sana! Lokasi penginapan ini terbilang mudah untuk ditemukan, apalagi letaknya berada dekat dari Tol Pasteur, tepatnya tak lebih dari lima menit b...

Ganti Nama

Tumben, hari ini saya merasa ada yang "ribet" dari blog ini. Ternyata hanya persoalan nama atau judul blog. Dari awal membuat blog di Wordpress hingga hijrah ke Blogger, saya memutuskan "Universe of 42" sebagai judul blog. Alasannya memang agak romantis: angka 42 kerap menyertai dan menghantui kehidupan saya. Jika ditanya contohnya apa saja, sudah terlalu banyak dan dulu pernah saya bahas di blog Multiply. Intinya adalah angka 42 pernah begitu sering mampir dalam kejadian-kejadian sepele sepanjang hidup saya dan cenderung menunjukkan pertanda yang membuat saya menelaah maknanya. Akhirnya saya putuskan menggunakan "Universe of 42" sebagai cerminan salah satu makna angka ini (dari sebuah sumber): antara Tuhan yang muncul lewat simbol 777 dan iblis 666 (42 adalah hasil perkalian 6 & 7, ceunah ). Lalu, saya percaya bahwa segala yang tertuang di blog pribadi saya merupakan wujud ide, imajinasi, pengalaman, serta harapan yang serba kontradiktif. Ada nilai k...

Perlahan

Image
"All we need is just a little patience" -Guns N' Roses Perlahan-lahan, saya rasa begitulah segala sesuatu harus dimulai. Seperti anak kecil yang baru lahir, ia butuh waktu untuk mampu duduk, tengkurap, merayap, merangkak, hingga tertatih-tatih melangkah. Lalu saya muncul dengan bantahan, "Itu, kan, anak kecil yang memang belum tahu apa-apa di dunia ini! Beda dengan saya!" kira-kira begitu. Tapi ternyata, ada yang harus saya tiru dari proses belajar si makhluk mungil ini. Adalah kesabaran dan kepasrahan seorang bayi yang baru lahir dengan segala keterbatasannya untuk menyambut level baru sebagai manusia; manusia utuh yang mampu menggunakan seluruh organnya untuk bergerak dan berpikir. Di usia saya yang sudah genap seperempat abad ini, ada satu hal yang saya sadari telah terkikis: kemampuan untuk bersabar. Jika ditelaah dengan mendalam, penyebab dari gejala ini tidak bisa ditarik secara mutlak ke dalam satu simpulan sebab. Saya bisa bilang kemajuan teknol...